you're reading...
Awamologi, NII KW9

MUDIK dari AL-ZAYTUN/NII (Mudik Berseri 2)

Salah satu makna mudik Lebaran (Idulfitri) adalah kembali ke fitrah, kesucian, suara hati yang fitri. Tentu, kita pun berharap begitu. Tapi, akankah adikku juga pulang dari Ma’had Al-Zaytun Indramayu, bukan hanya secara fisik, tetapi juga hati? Bertaut kembali dengan kami sekeluarga di kampung? Semoga begitu.

Masalahnya, ada ruang dalam hati dan pikiran adikku serta suaminya yang telah terisi oleh virus kacau “NII” dari Al-Zaytun. Bukan “langsung” dari markas besarnya itu, tentu saja. Namun, jelas-jelas ada keterkaitan yang erat antara para dedengkot di balik ma’had dengan para kader dan kurir yang bertugas menarik pengikut serta mengangkut segala yang bisa mengisi perut dan dapat dikonversikan sebagai dana. Al-Zaytun hanya terima “beres, bersih” sehingga yang tampak di sana hanyalah prestasi menjulang dan “surga”. Orang luar pun tahunya Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan terbaik tanpa noda karya anak bangsa.

Memang, bila yang kita pahami hanyalah hasil tanpa mau melihat proses, maka yang tersaji itu memang benar demikian. Ibarat kata, kalau meminjam perumpamaan di zaman kolonial, Al-Zaytun itu bak perguruan tinggi elite karya penjajah Belanda hasil memeras keringat warga pribumi dan properti ibu pertiwi. Rakyat dan bangsa kita jadi tumbalnya. Nah, adikku dan suaminya itu adalah tumbal atau korban Al-Zaytun.

Masalahnya, jika Al-Zaytun itu buah dari prestasi yang murni berupa keikhlasan harta dan tenaga umat, mengapa adikku itu (dua orang malah, beserta suami-suaminya) terus saja menyimpan rahasia, menyembunyikan kebohongan?  Memang, mereka tidak betul-betul memutuskan silaturahmi, paling tidak setahun sekali mereka masih mau mudik (secara fisik) ke orang tua. Namun, secara batiniah, tetap terasa ada yang hilang, beda dengan dua adikku yang lain non-“NII”. Bila yang non- itu masih sering menjalin kontak denganku dan keluarga yang lain, minimal via SMS, yang “NII” boleh dibilang nyaris tidak pernah lagi selain kepepet (ada yang betul-betul mereka perlukan saja). Mereka cuma pasif menerima uluran silaturahmi dari kita (kami yang non-“NII”) saja, sedangkan mereka tak pernah punya inisiatif mendahului untuk sekadar menyapa kita. Ada saja alasan bila mereka diminta untuk sekadar main ke rumah kita. Salah seorang adikku “NII” yang tinggal di Depok Jabar (bersama suami dan dua anak yang masih kecil) bahkan tidak pernah menghubungiku apalagi mengunjungiku dan keluarga yang tinggal di Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Padahal jaraknya cuma “sejengkal”. Terus saja aku yang aktif menyambangi mereka. Apalagi kakaknya yang tinggal di Indramayu (Al-Zaytun), tak pernah lagi bersapa selain saat bertemu pada momen Lebaran saja.

Aku ingat betul, inisiatif komunikasi tulus dari si kakak yang adikku itu hanyalah ketika dia meminta pendapatku untuk menjalin hubungan dengan pemuda yang kini jadi suaminya. Ketika itulah dia membawa majalah Al-Zaytun. Bagus memang isinya, terutama yang mengabarkan kehebatan lembaga pendidikan itu. Tak tahunya ternyata ada borok mengerikan di baliknya.

Kini, aku hanya bisa mendiskusikan fakta sebenarnya tentang Al-Zaytun dengan mereka (dua adikku dengan keluarganya) pada saat berlebaran di kampung saja di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Ini jelas momen yang sangat sempit lantaran jatah libur yang nggak lama.

Aku sebenarnya berharap adikku yang di Al-Zaytun mengundangku untuk bersilaturahmi kapan saja ke tempatnya. Namun, itu betul-betul harapan yang mustahil terwujud karena entah sampai kapan dia dan suaminya akan terus menjalankan “operasi rahasia”.

Memang, ke publik, hingga kini Al-Zaytun sendiri terus mengabarkan dirinya dengan segenap kehebatan dan prestasinya sebagaimana dapat dibaca di sini.

Namun, itu adalah fenomena gunung es yang di dalamnya justru tersembunyi banyak keanehan yang mengusik hati. Namun mereka benar-benar menutup akses untuk dikuliti.

Hemm, jika mereka (Al-Zaytun) benar-benar tulus ingin memberdayakan bangsa dengan segenap kehebatan dan kesuksesannya, mengapa mereka tidak mengutus saja agen-agen sosialisasi semisal adikku dan suaminya itu apa adanya? Di momen fitri Lebaran 1431 H nanti, aku betul-betul menunggu silaturahmi tulus dan kabar transparan nan menggembirakan dari mereka. Jangan beri kami racun penipuan dan pemerasan di balik rabuk pemberdayaan. Aku tunggu ya.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

11 thoughts on “MUDIK dari AL-ZAYTUN/NII (Mudik Berseri 2)

  1. hm saya prihatin dengan kondisi keluarga anda, dimana tali silaturahim dengan saudara anda terputus atau kalaupun ada cuma semu semata, sebaliknya saya salut dari sikap anda dimana anda tetap terbuka menerima dia, bahkan anda terlebih dulu berinisiatif mengunjunginya.
    saya punya pengalaman yang sama, dulu ketika kakak perempuan saya tinggal di bekasi dia sempat terhasut, dipaksa atau tidak ikut organisasi NII, saat itu saya sudah berada di tangerang, ketika saya mengunjunginya, kebetulan dikontrakannya sedang diadakan pengajian, karena saya berpikir ini adalah majelis ilmu yg positif ketika diajak sayapun ikut nimbrung, tema kali itu soal tauhid, saat itu membahas lafaz Laa ilaa haillalloh, sebetulnya tidak ada yang salah dengan temanya dan saya belum menemukan keganjilan, tapi ketika mereka begitu bersikap frontal terhadap saya untuk bisa bergabung, apalagi saya diajak ke markasnya didaerah pondok gede dengan cara mata ditutup, sayapun mulai curiga apalagi saat ditangerang saya sudah mencium adanya gerakan ini, diam-diam saya ikuti mereka ketika sampai ke markasnya, saya coba ucapkan salam oh rupanya tak ada yg jawab, ketika berkumandang adzan tak ada yg bersegera untuk sholat, komunitas macam apa ini? saya pun tetap berpura-pura kooperatif sehingga bisa menyaksikan ritual pembaiatan pengikut mereka, dan ketika saya pulang sayapun sudah menyiapkan strategi bagaimana caranya supaya saudara kandung saya bisa lepas dari mereka, sejak saat itu, intensitas kinjungan saya dari tangerang ke bekasi semakin sering, kita coba saling berargumen, baik dengan dalil seadanya ataupun coba menggunakan pemikiran rasional, akhirnya kakakupun sadar, saya sarankan coba anda lebih proaktif menghadapinya jika kita defensif semakin lama keyakinannya semakin kuat dan tidak mudah dirubah, jadikan momen pertemuan dengan mereka sebagai ajang untuk mengatur strategi untuk bisa menyadarkannya jangan biarkan saudara anda terhanyut dalam keyakinan yg menyesatkan, selagi masih ada waktu, kawan…..

    @Makasih atas atensinya.
    Saya pun kurang lebihnya sudah dan terus mencoba seperti yang Mas sarankan. Masalahnya adalah keterbatasan waktu karena kami masing2 tlah berkeluarga. Saya yakin sebenarnya mereka sudah tahu yang salah, cuma merasa telanjur saja dan nggak punya banyangan mesti bagaimana setelah keluar dari sana. Hanya saja, mengenai hal-hal itu, mereka nggak mau terbuka.
    Jika saja mau terbuka, tentu akan mudah ditolong.

    Posted by Tri Wahyudi | September 7, 2010, 12:27 pm
  2. Terimakasih Mas Awam, semoga tulisan ini dibaca oleh santri aktif / alumni & karyawan/ti Mahad tsb.

    Salam jabat erat,
    Bahtiar
    mantanii@yahoo.co.id
    http://niikw9.wordpress.com


    @Jabat erat juga. Met Lebaran ya Mas.

    Posted by bahtiar | September 7, 2010, 1:20 pm
  3. Masih ada to yang seperti itu

    @Iya tuh. Operasinya diam-diam sih, jadi gak tampak gerakannya. Tapi, tahu2 korbannya banyak. Padahal, yang jenis ini menurutku lebih bahaya dan jahat daripada teroris.

    Posted by Maskur® | September 7, 2010, 11:00 pm
  4. Emang udah positif agen NII y kang?

    @Ya, begitulah. Tapi, kok, aku malah gak diprospek sebagai target. Gak tau kenapa? Rupanya mereka pilih2 sasaran yang kira2 bisa ditipu.

    Posted by Miftahgeek | September 8, 2010, 5:28 am
  5. jadi khawatir…..

    @Ya, waspada aja.

    Posted by komuter | September 13, 2010, 11:44 am
  6. semoga adik-adiknya bisa segera kembali sebagai saudara sepenuhnya

    @Amin. Terima kasih, Mas Narno.

    Posted by sunarnosahlan | September 17, 2010, 8:31 am
  7. semoga kelak suatu saat dibukakan mata hatinya,
    bisa kembali berkumpul bersama keluarga,
    dengan memberikan keceriaan di tengah-tengah keluarga,
    yang sesungguhnya,
    bukan keceriaan semu belaka. s e m o g a . . . . .


    @Amin, amin ya Robbal alamin. Terima kasih, Mas.

    Posted by isdiyanto | September 17, 2010, 11:29 pm
  8. Saya ingat sekali, beberapa tahun silam, saat Al-Zaitun masih dibangun. Saat itu, saya beberapa kali mengantar ayah mertua untuk menagih pembayaran bata yang disuplai beliau untuk pembangunan pesantren tersebut. Pembayaran selalu lancar. Namun, saat Soeharto tumbang dan rezim Orde Baru berakhir, sontak pembayaran macet total. Seluruh pembangunan nyaris terhenti. Tak ada lagi berpuluh-puluh mobil datang ke desaku untuk mengangkut bata. Kalaupun ada, hanya satu dua. Itu pun bayarnya sulit sekali. Hingga saat ini, saya masih sulit percaya jika tak ada hubungannya antara Al-Zaitun dengan rezim Orde Baru. Tampak sekali ada rahasia yang ditutupi oleh pihak Al-Zaitun.

    @Memang betul Mas Rachee, ada keterkaitan politis seperti itu. Bahkan mungkin lebih rumit. Tapi justru kepentingan politis demikianlah yang bikin kebohongan mereka terlindungi. Pemerintah mestinya tidak mengorbankan rakyatnya hanya lantaran terhalangi selubung politis yang signifikansinya nggak jelas. Ini tentu menjadi benih subur teroris lantaran banyak warga yang kecewa terhadap negara (termasuk saya).

    Posted by racheedus | September 25, 2010, 10:06 pm
  9. Kepada Saudara2 di Jakarta.

    Hadiri, silaturahim & pemulihan korban jasmani rohani akibat doktrin ajaran NII NKA KW9 Zaytun Panji Gumilang.

    Acara ini gratis tidak pakai daftar langsung datang di lokasi.

    Info selengkapnya klik http://niikw9.wordpress.com

    Posted by Mantan Nii Zaytun | Oktober 26, 2010, 12:04 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Akhirnya Mudik Juga (Mudik Berseri 3) « Awamologi - September 14, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: