you're reading...
Awamologi

Sandaran

Agaknya ini tulisan pertamaku yang berjudul satu kata saja. Biasanya, aku bikin judul minimal dua kata karena sejauh menurut pertimbanganku, untuk membuat judul tulisan yang menarik, susah bila hanya diwakili satu kata. Apalagi, aku hanya penulis kelas blogger awam yang blognya saja miskin kunjungan alias tak beken.

Lain halnya bila sudah terbilang tenar, seleb blog, atau kalau di media konvensional, sudah jadi penulis ternama sekelas Gunawan Mohammad (GM) yang dalam catatan pinggirnya dominan pakai judul pendek-pendek satu kata atau satu nama.  Meski berjudul pendek, magnet tulisan GM jelas tak diragukan lagi. (Ah, maaf, “kejauhan” aku bawa-bawa nama GM wong jelas-jelas dia sastrawan-budayawan ternama kok. Mohon dimaklumi saja ya, soale di catatan pinggirnya itu dia memang kerap pakai judul pendek, selalu bahkan).

Eh, sebenarnya topik tulisanku bukan soal perjudulan kok. Hanya saja, kalau boleh jujur, aku memang gak pede berbagi tulisan hanya dengan satu kata atau satu nama sebagai judulnya. Takut gak ada yang tertarik. Semoga kenyataannya gak begitu.

Baiklah, kumulai saja pada topiknya meski akhirnya aku gagal bikin tulisan pendek yang memikat lantaran intronya saja sudah menghabiskan setengah postingan yang biasa kutulis.

Aku yakin, semua orang tahu arti kata “sandaran”. Namun, pasti pula, bayangan akan objek yang dirujuk oleh arti kata itu bisa berbeda-beda lantaran hal-hal yang bisa dijadikan sandaran itu banyak, baik yang bisa diindera secara fisik maupun yang tidak (benda atau non-benda).

Wah, rumit ya. Gini aja. Tadi/kemarin sore (Minggu, 26 September 2010), aku berangkat nguli naik KRL Jabotabek kelas ekonomi dari St. Citayam Depok/Bogor menuju St. Gondangdia Jakarta. Meski tak sepenuh ketika pagi saat orang-orang mau berangkat kerja, pada sore pas akhir pekan (Minggu) seperti ini penumpang malah padat lantaran orang-orang banyak pulang dari bepergian sehabis piknik dll ke Bogor.  Untuk penumpang laki-laki, jelas persaingan untuk mendapatkan tempat duduk gak tersisa lagi. Jangankan tempat duduk, ruang buat enak berdiri saja gak ada lagi, mesti desak-desakan. Makanya, beruntung sekali kalau masih dapat tempat bersandar di pojokan pintu atau dekat sambungan gerbong.

Biasanya, pas di pojok-pojok dekat sambungan (ada empat pojok dari dua gerbong yang saling bertolak belakang) tersisa tempat buat bersandar. Kalau keempatnya sudah terisi, masih mungkin bersandar pas di lorong pintu sambungan. Namun siap-siap saja untuk terus terganggu pedagang asongan yang selalu saja lewat meski penuhnya penumpang sudah sulit untuk diterobos. Tetap saja pedagang yang menang hanya berbekal kata “permisi, maaf”.

Itu cerita pada saat sore hari. Kalau pada pagi hari pas jam-jam berangkat kerja, gak ada lagi yang namanya pedagang karena semuanya adalah penumpang, baik si penumpang itu sebenarnya pedagang atau bukan. Mereka semua hanya bisa berdiri setelah tak ada lagi tempat duduk kosong. Bahkan ruang kosong pun nyaris hanya ada di atas kepala hingga langit-langit atap kereta. Di atas atap, penuh manusia/penumpang juga.  Bayangkan, orang-orang yang hanya dapat berdiri tanpa bisa bersandar. Pegal, capai pasti. Apalagi perjalanan jauh. Bisa jadi, mereka bisa  memanfaatkan tubuh penumpang lain untuk saling bersandar, tapi jelas itu tak senyaman kala  kita masih bisa sedikit bergerak untuk berubah posisi.

Nah, sore itu, aku kebagian berada di lorong pintu sambungan. Tak apalah. Meski sedikit kena air bocoran dari atap lantaran pas hujan, di situ terbilang lebih lega dan nyaman karena masih bisa bersandar.  Jongkok pun masih bisa sambil tetap bersandar pada dinding gerbong di mulut pintu lorong. Ketika itulah aku tersadar betapa sebuah sandaran itu begitu berharga.  Sekadar berupa dinding sisa di mulut gerbong KRL ekonomi yang kotor dan pengap itu saja suda terasa amat membantu menepis “nestapa”. Apalagi bila sandaran itu adalah lengan atau pundak kekasih nan wangi aromanya.

Ya, Tuhan, betapa Engkau selama ini telah selalu menjadi dan memberikan diri-Mu sebagai sandaranku dengan ikhlas dan gratis meski kerap kuingkari dan tak kuhiraukan.  Maafkanlah daku, ya Rabbi.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

14 thoughts on “Sandaran

  1. LIke this, jadi ingat jaman kuliah naik PUrbaya heheheh

    @Lumayan, dapat memancing nostalgia.

    Posted by Maskur® | September 27, 2010, 6:30 am
  2. waooo kang awam kan seleblog..buktinya sayah ngefans😀

    @Lebih ngefans ke siapa: aku atau kang ontohod?😀

    Posted by echa | September 27, 2010, 7:49 am
  3. cuman satu kata. tapi sering banget dipakai dalam berbagai aplikasi keseharian y kang🙂

    @Iya, Mif, karena sandaran adalah keniscayaan dalam hidup kita.

    Posted by Miftahgeek | September 27, 2010, 3:14 pm
  4. ternyata judul satu kata ini isi tulisannya cukup panjang juga yach! apalagi klo judulnya panjang, gimana isinya….😀 hehehe….

    @Klo judulnya panjang, isinya malah pendek, kan udah jelas terbaca di judul, seperti judul-judul di koran kuning.😀

    Posted by Fir'aun NgebLoG | September 28, 2010, 9:57 am
  5. Postingan yang menarik,…..salam dari kotak batik pekalongan

    @Waalaikumsalam, Pak Guru Teguh.

    Posted by teguhsasmitosdp1 | September 29, 2010, 5:32 pm
  6. Endingnya memukau !

    @Endingnya doang ya, selebihnya bikin mual.😀 Makasih ya Ustad.

    Posted by Akhmad Tefur | September 29, 2010, 7:46 pm
  7. sebuah hidayah yang diturunkan Allah di KRL, lalu disebarkannya di blog. Ya, Sandaran bahkan menjadi titik tolak dan kembalinya kita, kang.
    nice post! share ah!

    @Ya, sekadar memaknai sesuatu, mengikat dan membaginya serta sambil belajar untuk terus menulis.

    Posted by MT | September 30, 2010, 6:06 am
  8. Waduh gak kebayang dech kalau hidup tanpa punya sandaran, yang ada kegamangan, kegelisahan serta rapuh, bagai buih dilautan, moga kita tidak kawan………………..

    @Ya, semoga begitu.

    Posted by Tri Wahyudi | Oktober 1, 2010, 10:01 am
  9. duuh, jadi bingung mesti nulis apa nih setelah baca postingannya, semoga yang membaca maupun yang membuat (postingan, maksudnya) menjadi hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur akan nikmat yang telah diberi, amin.

    Btw,
    Saya eneng ocha ya Kang… bukan yang lain looooh😛

    @Amin ya Rabbal Alamin.
    He he he, iya, sekarang bakal diinget-inget betul sosok eneng yang satu ini.

    Posted by eneng ocha | Oktober 1, 2010, 9:11 pm
  10. Postingan yang indah
    Indah sekali, sobat.

    @Ah, kau. Btw, makasih dah bersapa.

    Posted by achoey | Oktober 3, 2010, 9:07 am
  11. bersandar di bis..

    @He he he, tapi keknya lebih seru di KRL deh.

    Posted by z4nx | Oktober 3, 2010, 2:30 pm
  12. udah lama ngak naek KRD … waktu “kuli” pake krd cicalengka – mBandunk tanpa karcis jadi ngak kepikiran “sandar-menyandar” yg kepikir gimana menghindari kondektur😆

    btw … “sandaran hati” nya Letto enak juga meski dua kata
    Teringat ku teringat
    Pada janjiMu ku terikat
    Hanya sekejap ku berdiri
    Kulakukan sepenuh hati
    Peduli ku peduli
    Siang dan malam yang berganti
    Sedihku ini tak ada arti
    Jika Kaulah sandaran hati
    Kaulah sandaran hati
    Sandaran hati

    maaf corat coret di dinding keretaku😉

    @Ya, betul Kopral. Makasih atas corat-coret “sandaran hati”-nya. Terima kasih juga dirimu dah menyadarkanku tentang pentingnya sejarah (semoga nanti bisa ku-posting soal ini).

    Posted by kopral cepot | Oktober 4, 2010, 11:20 am
  13. That’s wonderful, just keep it up.。

    Posted by Discount Silver Jewelry | Oktober 5, 2010, 8:07 pm
  14. sadar…bahwa kita adalah manusia…..
    butuh sandaran ….**dalem bgt filosofinya**
    ghitu kok ada yg masih sombong yach….? **keluh**

    ini kunjungan balik yg telat bapak….:-)

    @Gpp, makasih.

    Posted by gwgw | Oktober 7, 2010, 5:26 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: