you're reading...
Sok Berbagi

Sejarah

Tak pelak, ungkapan terima kasih mesti dituliskan di sini untuk seseorang bernama Kopral Cepot atas upaya ikhlas bermanfaatnya menghidupkan kesadaran orang lain atas pentingnya sejarah. Lebih dari itu, ia pun mencoba menularkan sesuatu yang ia sebut sebagai kecerdasan sejarah (history quotient).
Betapa orang seperti diriku yang ketika SMA bukan cuma tak hirau pada pelajaran sejarah dan tak menghargai guru pengajarnya, tapi juga tak kunjung ngeh (nyambung) memahami ilmu yang satu ini, mestilah bersujud syukur lantaran pada usia menjelang uzur masih diberi kesempatan mendapatkan “hidayah” untuk bisa belajar hikmah sejarah. Berkat Kopral, aku pun lantas tergerak mencermati lingkungan-sekitar dan menemukan kebenaran dari apa-apa yang ia tulis soal pengkhidmatan pada sejarah. Bahwa orang-orang yang bersetia mencintai sejarah akan dapat menuai untaian bernilai dan pelajaran berharga darinya. (Orang-orang demikian itulah yang kiranya dapat disebut telah memiliki kecerdasan sejarah).
Seorang teman blogger ini, Mataharitimoer (MT), salah satu contohnya. Ia rupanya telah sejak awal merelakan dirinya menggelandang, menerjunkan dirinya menekuni sejarah kehidupan masyarakatnya dan lalu menuliskannya. Bukti-bukti nyata tertulis atas hal itu, paling tidak, dapat disimak melalui tiga bukunya ini: (1) Jihad Terlarang: Cerita dari Bawah Tanah, (2) Guru Kehidupan (Belajar Hidup Kaya dari si Miskin): 30 Kisah Inspiratif tentang Hidup Terhormat dalam Keterbatasan, (3) Jejak Walisongo: Menyerap Sejarah dalam Legenda.
Buku pertama MT itu memang berupa sebuah novel (fiksi, terbitan Kayla Pustaka tahun 2007), tetapi cerita yang tersaji di dalamnya tetaplah merupakan “catatan sejarah” yang mengisahkan kehidupan nyata (sebagaimana disebutkan di sampulnya) seorang mantan aktivis Islam garis keras. Lalu buku kedua dan ketiga, jelas, merupakan catatan dan ulasan tentang hal-hal dan kejadian sebenarnya berbentuk prosa. Terutama buku ketiga (e-book) jelas-jelas merupakan penelusuran jejak sejarah. Menurut penulisnya, pemberian subjudul “menyerap sejarah dalam legenda” lantaran buku ini merupakan hasil upaya pencarian atas hal-hal yang bersifat historis dan manusiawi dari banyak tuturan maupun literatur tentang Walisongo yang kental dengan aroma mistik.

Begitulah, terpicu dan terpacu oleh Kopral Cepot, lalu terbantu oleh MT, akhirnya aku pun tergerak untuk mengakrabi sejarah (meski dengan cara yang sangat awam). Kubiarkan diriku menelusuri apa-apa saja yang singgah dan menarik keingintahuanku akan perihalnya, sejarahnya. Misalnya tentang sejarah Islam dan atau sejarah kebudayaan Islam. Ah, di mata awamku, entah hingga kapan bisa kulihat “misteri” di balik zaman keemasan dan kemunduran Islam serta silang-sengkarut yang terus saja tersisa buah warisan prahara politik sepeninggal Nabi Muhammad SAW, terutama sejak masa akhir Khulafaur-Rasyidin. Islam yang melahirkan berbagai aliran politik dan akidah yang telah ter-“nubuat”-kan dalam hadis Nabi menjadi “73 golongan”. Buku-buku mengenai hal itu yang sempat kubuka-buka dengan “terbata-bata” adalah Aliran Politik dan ‘Aqidah dalam Islam karya Prof. Dr. Imam Muhammad Abu Zahrah (Logos Publising House, 1996), Islam dari Masa ke Masa tulisan Ahmad Amin (PT Remaja Rosdakarya, 1993), dan Sejarah Kebudayaan Islam dari A. Hasjmy (Bulan Bintang, 1995).

Membaca-baca buku-buku itu sebenarnya mengasyikkan, tapi sayang aku tak bisa mempertahankannya secara istiqamah. Padahal, di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Terutama rangkaian peristiwa yang menyangkut terbunuhnya para khalifah: Umar, Usman, dan Ali. Terutama terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan sebagai awal bencana besar yang pengaruh tikamannya jauh melampaui zamannya, bahkan masih terasa hingga kini. Tentang hal itu, Ahmad Amin menuliskan begini: “Memang benarlah, bahwa dengan terbunuhnya khalifah kedua, ‘Umar; khalifah ketiga, ‘Utsman, dan khalifah keempat, ‘Ali; pintu bencana terbuka lebar bagi kaum muslimin pada masa-masa berikutnya. Semua peristiwa dan kejadian itu, khususnya peristiwa terbunuhnya Khalifah ‘Utsman merupakan pangkal pertama yang menjadi preseden bagi terbunuhnya beberapa orang Khalifah Bani Umayyah, terbunuhnya banyak Khalifah Bani ‘Abbas, terbunuhnya banyak Sultan Mamalik …, dan seterusnya. Terdapat perbedaan antara terbunuhnya Khalifah ‘Umar dan Khalifah ‘Ali di satu pihak, dengan peristiwa terbunuhnya Khalifah ‘Utsman. Peristiwa terbunuhnya ‘Umar dan ‘Ali dilakukan oleh seorang atau oleh komplotan beberapa orang; sedang terbunuhnya Khalifah ‘Utsman adalah akibat pemberontakan rakyat di berbagai daerah Islam.” (Hlm. 92).

“Kecuali itu, peristiwa terbunuhnya Khalifah ‘Utsman mengakibatkan perpecahan kaum muslimin sehingga menjadi empat atau lima golongan, padahal sebelum itu mereka adalah satu umat, satu agama dan hidup di bawah naungan satu pemerintahan, tetapi akhirnya mereka terbagi menjadi beberapa golongan; Pengikut ‘Utsman, pengikut ‘Ali, kaum Murji’ah, golongan yang berpegang pada prinsip jama’ah dan kaum Haruriyah (Khawarij) ….” (Hlm. 92).

Demikianlah, kebenaran, termasuk kebenaran sejarah, agaknya tidak selalu terasa manis. Namun, bagaimanapun itu, kebenaran mestilah tetap kita sampaikan setelah kita cari, kita gali dengan sungguh-sungguh dan akhirnya kita temukan. Dari situlah kita bisa mengambil pelajaran, hikmah.

Memang, hal mendasar yang disampaikan Kopral Cepot adalah juga keharusan menemukan hikmah dan lain-lain dari kebenaran sejarah. Kopral menandaskan hal itu dengan melandaskannya pada Alquran berikut ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Qs. Yusuf (12) : 111).
Akhirul kata, maafkanlah daku teman-teman, terutama Pak Kopral dan MT, bila ada silap dan ketidaktepatan kata-kata sehingga melenceng dari makna yang sesungguhnya. Maafkanlah keawamanku ini dan mohon kiranya dikoreksi.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

5 thoughts on “Sejarah

  1. Assalamu’alaikum …. Pak BB … sejarah biasa membicarakan “cerita jenderal” maka pantas biasanya ditulis oleh yang setingkat jenderal dari kalangan “intelektual”. Maka sang kopral amat jarang tersaji dalam sejarah kecuali jenjang kisah dari jenderal itu, apalagi mana mungkin sang kopral menulis tentang sejarah lebih2 di saat zaman slalu bicara “siapa sih loe??” .. Pak BB mungkin yang terlalu berlebihan pada kami yang “kopral” yang grade ke-awam-annya di bawah awamologi .. btw hatur tararengkyu atas semuah per-share-an ini. Kopral yang awam banyak belajar tentang awamologi. (maaf’s enter laptopnyah lagie rusak😉 ) … o iya tentang HQ banyak hal yang belum tuntas .. krn otak kopral lambat panas he he he … mohon do’anyah ^_^

    @Waalaikumsalam wr.wb.
    Kata Prof. Dr. Kuntowijoyo (alm.), “… Bahkan, mereka yang bekerja di pengalengan ikan, pertukangan sepatu, perusahaan batik, pabrik biskuit, dan dunia usaha lain tetap dapat menjadi sejarawan… Tanggalkan anggapan bahwa hanya mereka yang bekerja sebagai dosen universitas dan istitusi-institusi ilmiah berhak menjadi sejarawan!” Jadi, mantaplah melangkah Bung KC sebagai sejarawan muda ke mana jua medan rambahan Anda. Semoga sukses dengan HQ-nya.
    Insya Allah aku nggak berlebihan dan tulus adanya.

    Posted by kopral cepot | Oktober 8, 2010, 9:25 am
  2. Yup .. kata2 Pak Kunto (alm) itulah yg membuat awal sy beranikan diri buat blog .. hatur tararengkyu😉

    Posted by kopral cepot | Oktober 9, 2010, 7:46 pm
  3. ditunggu sejarah Banyumase heheh

    Posted by Maskur® | Oktober 19, 2010, 7:40 am
  4. oh, kang Awam. aku tak pandai menuliskan sejarah. aku hanya menulis apa yg kurasakan saja. semoga saja tidak menyesatkan banyak orang. nah, kalo kopral Cepot, jelaslah ia pemerhati sejarah. blognya kaya dengan sejarah, bahkan yang tak kita tahu sebelumnya.
    terima kasih dan mohon maaf apabila ada salah kata.
    jabat erat!

    Posted by MT | Oktober 23, 2010, 1:39 am
  5. @MT, bagaimanapun, dirimu tetap guru “sejarah” bagiku.
    Erat kujabat!

    Posted by Awam | Oktober 23, 2010, 9:21 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: