you're reading...
Awamologi

Ketika si Awam Bertemu sang Hero

Awam tentu saja ingat betul betapa hari-harinya makin kukuh setelah tambahan nilai-nilai dan bukti peneguh ia peroleh. Sebuah buku berformat unik, lebih kecil dari ukuran standar, tetapi lebih besar daripada buku saku. Tepatnya berukuran 11,7 x 20 cm. Dengan ketebalan 300 halaman, buku ini masih termasuk sebagai buku mungil. Namun, isinya ternyata memuat banyak manfaat yang tak kecil.

Sejak memaklumatkan diri sebagai pengusung nilai-nilai keawaman sehingga berhak disapa dengan panggilan “si Awam”, ia memang terus berupaya mencari peneguh bagi pegangan hidupnya itu. Maka, saat di sebuah toko buku ia melihat sang hero, hatinya pun bagai dialiri darah baru, berpacu seru.

Ia perhatikan sampulnya. Di sana tertera judul yang langsung bertambat di hati lantaran ada kesamaan hakiki dengan “awamologi”, istilah bagi nilai-nilai atau prinsip-prinsip keawaman yang hendak ditegakkannya. Judul yang tercetak besar: Zero to Hero (Mendahsyatkan Pribadi Biasa menjadi Luar Biasa).

Ya, secara harfiah, “zero” merujuk pada kondisi keawaman ketika seseorang berada pada posisi bukan siapa-siapa, dalam situasi banyak rintangan dan tantangan untuk sampai pada tujuan menjadi “hero”, sementara bekal dan modal diri hanya pas-pasan, bahkan mungkin berkekurangan. Namun, mau tak mau setiap orang mesti memilih untuk menjadi hero, minimal bagi diri sendiri, bagi orang-orang yang menjadi tanggungan masing-masing (anak-istri dll), lalu bagi sesama.

Si Awam pun bak menemukan asupan bergizi yang menambah kekuatan bagi daya hidupnya untuk mewujudkan cita-cita, menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan keluarga serta sesama. Misalnya, ketika memasuki beranda buku, halaman pembuka, sebuah kutipan dahsyat dari Alquran langsung menyapa: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Rupanya penulis buku ini, Solikhin Abu Izzudin, memberikan penekanan yang sama (cetak tebal) sebagaimana poin-poin yang menjadi pijakan si Awam. Bukankah kita semua memang sama, hamba awam Tuhan, yang saat dilahirkan tidak mengetahui sesuatu pun (selain pengetahuan azali yang telah diinspirasikan Tuhan sebagaimana diterima Adam)? Bahwa kemudian Allah dengan kasih sayang-Nya memberikan segenap anugerah kelebihan kepada kita, tak lain itu semua agar kita bersyukur, bukan malah jadi takabur.

Kondisi berkekurangan yang diperhadapkan dengan anugerah Allah agar kita bersyukur bahkan secara khusus diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau diejek oleh orang-orang musyrik bahwa beliau telah ditinggalkan Tuhannya. Hal itu dapat dibaca pada QS Ad-Dhuha, dalam hal ini pada ayat 6, 7, dan 8 berikut ini.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang berkekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS Ad-Dhuha: 6¬-8)
Catatan:
[1583]. Yang dimaksud dengan bingung di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad SAW sebagai jalan untuk memimpin umat menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Dari ayat-ayat di atas, dapat diperoleh makna, seorang nabi pun diingatkan bahwa sebermula dirinya hanyalah seorang yang penuh keterbatasan dan hanya karena kasih sayang Allah-lah beliau mendapatkan jaminan perlindungan dan karunia:
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu[1581]. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)[1582]. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.” (QS Ad-Dhuha: 3-4)
Catatan:
[1581]. Maksudnya: ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW terhenti untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata: “Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat ini untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu.

[1582]. Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad SAW itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedangkan permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.

Namun, sejarah membuktikan bahwa meskipun Nabi telah mendapatkan jaminan perlindungan Allah, beliau justru amat sangat rajin beribadah, berdakwah, dan bermunajat kepada Allah. Artinya, pengistimewaan Tuhan atas dirinnya tidak menjadikan beliau berleha-leha, sebaliknya segenap ujian berupa kekurangan, rintangan, dan tantangan tidak membuat beliau berkecil hati.

Sang hero pun memberikan penekanan yang demikian. Menurutnya, meski kita ini orang biasa yang banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan, kegagalan, kemalasan dll, itu bukan masalah. Di tengah semua itu, kita bisa mendahsyatkan diri agar dapat melahirkan prestasi tinggi. Itulah kepahlawanan sejati, from zero to hero.

Bukti-bukti sejarah pun terpapar, banyak orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan, bukan dalam buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurusi hal-hal duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Menyedikitkan tidur malam untuk bisa bangun malam. Sedikit canda untuk merasakan nikmat ibadah. Tak berlebihan dalam bergaul untuk merasakan lezatnya iman. Menahan diri dari maksiat agar tubuh tetap sehat.

Di bab awal, sang hero memberikan contoh Imam Syafii dan Abu Bakar al-Misky. Di bawah subjudul “Kecil-kecil jadi mufti” untuk Imam Syafii dan “Wanginya tak mau pergi” untuk Al-Misky, ia memberi tahu bahwa sang imam yang berasal dari kalangan orang biasa telah mampu melakukan percepatan diri sehingga saat usianya belum balig (9 tahun) telah hafal Alquran, usia 10 tahun hafal kitab Al-Muwatha karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadis pilihan, dan saat usia 15 tahun sudah jadi mufti (semacam hakim agung) Kota Mekkah. Adapun mengenai Al-Misky, ia mewangi sepanjang hari ke mana pun pergi lantaran mampu berkelit dari kondisi sulit jebakan zina seorang wanita dengan cara unik: melumuri diri dengan kotoran dari dalam perutnya.

Tentu saja, untuk berprestasi, tiap orang memiliki kecocokan sendiri-sendiri dalam hal apa maupun bagaimananya. Hal itu tidak melulu dalam bentuk dan ukuran yang luar biasa, bisa juga dalam rupa yang sederhana tetapi berharga mulia. Dari dua contoh di atas, misalnya, tampak bahwa prestasi Imam Syafii jelas amat luar biasa. Namun, kreativitas orisinal Al-Misky juga tak kalah berharga meski terlihat lebih “sederhana”. Akan tetapi Allah rupanya tetap memberikan apresiasi maksimal. Begitu pula Rasulullah SAW tak kurang apresiatifnya pada amal mulia meski berupa tindakan sederhana dari orang biasa yang nyaris bukan siapa-siapa sehingga orang kebanyakan tak sempat mengingatnya.

Di kala orang-orang tak menghiraukan keberadaan seorang perempuan penyapu masjid, misalnya, Rasul justru merasa amat lekat dengannya sehingga ketika sang perempuan suatu saat tidak tampak beraktivitas di masjid, Rasul pun menanyakan kabarnya. Ketika ternyata sang perempuan dikabarkan telah meninggal dunia, Rasul pun minta diberi tahu kuburnya, lalu beliau menyalati dan mendoakannya. Lihat pula betapa Rasul terabadikan apresiasi tulusnya terhadap seorang kecil bernama Julaibib. Masyarakat memang mengabaikannya lantaran ia hanyalah orang biasa dan miskin yang tak punya keistimewaan apa-apa dalam pandangan orang umum. Namun, saat si Julaibib meninggal dunia dalam sebuah peperangan, ternyata keikhlasannya dalam berjihad mampu menggetarkan ingatan Rasul kepada dirinya. Padahal, tak ada orang lain yang mengingat namanya, apalagi menanyakan keselamatannya. Rasul pun memberikan penghormatan yang indah buat Julaibib. Kata Rasul setelah mencari-cari jasad Julaibib, menemukannya, dan membersihkan debu-debu serta kotoran yang melekati tubuhnya: “Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu.” Rasul bahkan mengulang-ulang kata-kata itu sampai tiga kali.

Demikianlah. Pada titik-titik lintasan keawaman seperti itulah si Awam (awamologi) bertemu dengan sang hero beserta gagasan-gagasannya. Bila keawaman pada diri orang biasa (si Awam-zero) mesti dijadikan sebagai tumpuan kekuatan, sebaliknya orang-orang yang lebih berkecukupan dan terpandang (punya nama) mesti terlebih dulu meng-awam-zero-kan dirinya untuk menggapai akhlak mulia (takwa). Mereka sama sekali tak boleh jumawa.

Kini, si Awam merasa tak lagi sendiri. Di sisinya ada sang hero yang selalu menemani. ***

Info Buku

Judul : Zero to Hero: Mendahsyatkan Pribadi Biasa menjadi Luar Biasa
Penulis : Solihin Abu Izzudin
Penerbit : PRO-U Media, Yogyakarta
Tahun terbit : 2006, Februari (Cet.I)
(Yang kubaca Cet.X, Februari 2008)

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

19 thoughts on “Ketika si Awam Bertemu sang Hero

  1. buku bagus yang sangat layak untuk menggali inspirasi ya kang…

    *pinjem dong.. halah!

    Posted by asepsaiba | Oktober 19, 2010, 9:18 am
  2. yang aku suka dari buku ini adalah kupasannya tentang profil zero to hero dari orang2 yang ditorehkan dalam sejarah, yang telah kukenal dalam literatur lain, namun baru kusadari ke-hero-annya melalui buku ini.
    yang aku suka dari awam ini adalah kupasannya tentang buku yang seolah-olah hidup sebagai teman dan panutan

    Posted by MT | Oktober 19, 2010, 10:07 am
  3. Wah mantap ya Pak
    Saya belum pernah baca dan beli buku ini🙂

    Posted by achoey | Oktober 20, 2010, 8:47 am
  4. @Asepsaiba, MT, Achoey, thank you.

    Posted by Awam | Oktober 20, 2010, 7:44 pm
  5. aduh om, belum punya bukunya nih. lagi asik main sepedah nih

    Posted by komuter | Oktober 21, 2010, 10:38 am
  6. selalu ada pelajaran yg bisa diambil saat membaca kisah2 perjuangan seorang yg tadinya nobodi jadi sambadi😉

    salam persahablogan

    Posted by Wong Kam Fung | Oktober 21, 2010, 11:41 pm
  7. alhamdulillah, terimakasih sharingnya Kang🙂

    Posted by eneng ocha | Oktober 22, 2010, 12:28 pm
  8. Salam kenal

    Posted by Dedi Suparman | Oktober 22, 2010, 4:21 pm
  9. Salam kenal………………………gan….

    Posted by Anak Baru | Oktober 22, 2010, 4:22 pm
  10. saya pengen baca tp lum ada yg kasih pinjem,hihihih🙂

    Posted by nurrahman | Oktober 22, 2010, 10:34 pm
  11. “meng-awam-zero-kan dirinya untuk menggapai akhlak mulia (takwa)” kata2 yg jadi motor (motiv oriented) hidupku … hatur tararengkyu😉

    Posted by kopral cepot | Oktober 23, 2010, 5:14 am
  12. @Komuter, wah asyik ya bersepeda-ria.
    Salam dari bojong gede.

    @WKF, iya Mas. Makasih, salam balik.

    @Ocha, sama-sama.

    @Dedi Suparman/Anak Baru, salam juga. Blogmu bagus2 isinya, insya Allah nanti aku kalau unduh-mengunduh dari tempatmu aja ya.

    @Nurrahman, moga penulis buku/penerbitnya mengirimimu buku ini.

    @Kopral Cepot, makasih juga. Semoga bisa saling memotivasi dan mengingatkan.

    Posted by Awam | Oktober 23, 2010, 9:14 am
  13. hmm… maenarik juga bukunya… pantas untuk dibaca nih…🙂

    Posted by missjutek | Oktober 23, 2010, 3:15 pm
  14. Semoga menang ya

    Posted by Wayir Nuri | Oktober 29, 2010, 10:41 am
  15. Hero , Knight , Warrior
    Hipnoterapi Semarang
    orang-orang yang selalu peduli dengan sesama

    ..
    Semoga bukunya menang

    Posted by ILYAS AFSOH | Mei 12, 2016, 1:24 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Awamologi | Jamaah Blog Sehat - Desember 30, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: