you're reading...
Awamologi

Aku Tak Awam Lagi?

Kalau tak awam dalam pengertian sudah lebih paham atas sesuatu sih positif saja. Tapi, kalau itu bermakna bergaya sok tahu atau sok-sok yang lain, jelas negatif. Nah, jangan-jangan aku terjangkit yang negatif itu. Akibatnya malah tak muncul-muncul lagi postingan baru. 

Ceritanya, setelah “tak sengaja” ikut acara “Soempah Pemoeda 2.0” pada 28 Oktober 2010 lalu di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, aku berniat ikut lomba postingan soal Sumpah Pemuda ini yang diselenggarakan oleh www.soempahpemoeda.org dengan dukungan XL. Namun, apa lacur, lantaran benar-benar awam sejarah, hasilnya malah bubrah, gak jelas jejaknya. Hingga tenggat waktu terlampaui, postingan tak kunjung jadi.

Memang, paling tidak, aku jadi tahu kemungkinan terjadinya pemaknaan yang melenceng dari makna awal Sumpah Pemuda sebagaimana antara lain dapat dibaca pada buku Keith Foulcher Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia (Komunitas Bambu, cet.II Oktober 2008).  Berkaitan dengan itu, aku juga jadi tahu ada peran vital M. Tabrani, selain M. Yamin, pada rumusan Sumpah Pemuda 1928. Terutama pada butir ketiga yang menjadikan kita memiliki bahasa persatuan bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu sebagaimana diusulkan Yamin.

Lalu, soal bahasa persatuan itu, sebagaimana semangat awal “menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”, semestinya tidak bermakna menunggalkan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu yang meleburkan (lalu mematikan) unsur-unsur kedaerahan (bahasa daerah) yang membangunnya. Kita tidak memilih jenis melting pot, tapi salad bowl  (gado-gado) yang masih bisa dikenali  bahan-bahan racikannya. Atau dalam ungkapan Maryanto, seorang pemerhati politik bahasa, bahasa Indonesialah yang melokal, menjadi bahasa ibu anak-anak bangsa kita, tanpa ketakutan primordial kehilangan bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah bisa tetap hidup sebagai penyumbang produktif bagi “multi-bahasa” bahasa Indonesia.  (Wah, kira-kira begitulah, aku masih awam soal ini).

Nah, setelah gagal dengan proyek postingan Sumpah Pemuda, aku malah terbius oleh sosok Roger Garaudy.  Bayangkanlah, apa jadinya, seorang awam coba-coba menyerap filsafat dan pemikiran-pemikiran canggih seorang filsuf?

Agar tidak kacau dan bisa-bisa jadi “gila”, aku tetap berpegang erat pada prinsip-prinsip keawaman (awamologi), yang intinya mesti tetap sadar diri akan fitrah keawamannya, sambil sedikit-sedikit memahami warisan ilmu dari Garaudy. Hal yang membuatku tertarik menelusuri dan menuliskan perihal Garaudy ini adalah bukan lantaran dia akhirnya masuk Islam, setelah melewati perjalanan panjang dan berliku dalam ranah pemikiran dan pergerakan,  tetapi karena menurutku dia termasuk orang yang haus untuk mencari Tuhan dan atau kebenaran serta terus konsisten dan teguh menyampaikan dan memperjuangkan hal itu. Salah satunya dia membentuk lembaga dialog antarperadaban dan tak lelah untuk terus memperjuangkannya. (Ini jelas dahsyat bagi orang awam sepertiku, merasa bagian dirinya ikut diperjuangkan).

Segitu dulu deh. Semoga teman-teman yang lebih paham berkenan memberikan ilmunya di sini.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

13 thoughts on “Aku Tak Awam Lagi?

  1. lembaga dialog antar peradabannya Roger Garaudy itu apa, kang Awam? aku kepingin tahu dan kalau ada webnya, tolong informasikan ya.
    terima kasih.

    @Maaf, MT, aku baru sebatas mengutip-ngutip aja. Lembaga dialog antarperadaban/kebudayaan itu namanya The institute for the Dialogue among Civilizations. Entahlah apa masih aktif atau tidak, sebab Garaudy sendiri kan sudah sepuh. Web-nya agaknya nggak ada. Tapi, nanti kalau nemu aku kasih tau.

    Posted by MT | November 18, 2010, 10:57 am
  2. Saya juga merasa masih awam dalam banyak hal kang awam…

    @Ya, dalam hal itu, kita dianjurkan untuk cari ilmu (sebatas kemampuan) agar gak awam lagi.

    Posted by Asepsaiba | November 18, 2010, 2:42 pm
  3. ….pengetahuan saya sedikit tentang Garaudy…orang Perancis yang pernah menjadi komunis yang mencoba mendamaikan Marxisme dengan agama Katolik pada 1970-an…kemudian meninggalkan kedua doktrin itu… dan masuk Islam pada 1982, dengan nama Ragaa (wikipedia)….saya belum membaca 20 lebih karya bukunya…misalnya tentang Islam and integrism….dan Apakah kita memerlukan Tuhan?…kalau ada bukunya akan saya gunakan untuk mengajar Falsafah Sains pada program doktor di IPB….

    @Wah, terima kasih sangat Pak Sjafri atas suport ilmunya. Walau sebatas komentar sekilas, insya Allah akan dalam-membekas. Saya amat mendukung Pak Sjafri untuk segera menyerap buku-buku Garaudy dan membagikannya kepada para mahasiswa dan kami (Blogor).

    Posted by sjafri mangkuprawira | November 19, 2010, 6:38 am
  4. siapakah Roger Garaudy itu mas awam?
    hi hi ketemu di sini😀

    @Halauw, Julie, met ketemu lagi. Penyair rupanya dikau.
    Soal Garaudy, sedikit banyak sudah disebut di komentar Pak Sjafri di atasmu. Mungkin nanti aku tambahi pada posting tersendiri.
    Makasih ya dah singgah.

    Posted by gerhanacoklat | November 19, 2010, 11:58 am
  5. yang namanya Roger Garaudy saya juga tahunya setelah membaca blog yg pemiliknya rendah hati ini. menarik

    @Saya pun baru baca pas Idul Kurban kemarin. Kebetulan di dalamnya, Garaudy juga terkesan soal pengorbanan Nabi Ibrahim itu, tapi dia mendapatkannya via Soren Kierkegaard. Seru memang.

    Posted by Wong Kam Fung | November 19, 2010, 4:14 pm
  6. pak….setiap baca blog awamologi saya jadi sering pusing heheheeh soalnya yang dibahas tinggi banget heheheehh kalau pak awam bilang awam, apalagi saya ya xixixixxi

    @Lho, Ndah, kan saya gak bahas soal orang naik pohon, kok bisa ketahuan tinggi rendahnya sih. Hebat kamu.😀

    Posted by zadinda | November 20, 2010, 10:58 pm
  7. Saya berharap ada pembahasan lanjutan di blog ini menyangkut Garaudy. Sepertinya sangat menarik tuk membuat saya semakin bersemangat mendekati Tuhan.

    sekarang gak pakai nama Awam lagi😀

    @Justru sekarang makin mantap pakai nama “Awam”.
    Soal Garaudy, asyik bacanya tapi berat nulisnya.
    Apalagi banyak hal krusial yang rada-rada sensitif meski sebenarnya bila kita berpegang pada asas transparansi, toleransi, kebenaran, dan keadilan, tak ada yang tabu. Malah menurutku bisa bikin kita makin dewasa dan bertanggung jawab.

    Posted by achoey | November 21, 2010, 1:57 pm
  8. karena awam, jadi malah lebih banyak tau nih Kang😀

    @Soal banyak-sedikit, aku tak tau persis. Yang lebih kutahu, sebatas ala-kadarnya saja.

    Posted by eneng ocha | November 25, 2010, 3:10 pm
  9. Itu ga pa toh kang menarik diri dari tambahan pengetahuan gitu? –”

    @Waduh, sori, Mif, rada telmi nih aku atas komenmu. Yang pasti aku memang awam, tapi tetap berusaha belajar semampuku.

    Posted by Miftahgeek | November 25, 2010, 7:57 pm
  10. “semakin banyak kita mencari tahu, semakin tahu kita bahwa kita tidak banyak tahu (awam)”

    betul begitu pak Awam? Salut dan bangga dengan pemikiran pak Awam. Seorang guru bagi saya dan senang sekali membaca untaian-untaian kata di blog ini yang penuh kesederhanaan tapi menggelitik ratusan pembaca untuk jadi pengen tahu. Hehehe.. Saya jadi baca-baca tentang filsafat lagi nih.. ingin tau dan “ingin bertambah awam!”

    Posted by unggulcenter | Desember 6, 2010, 9:00 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: ternyata « komuter jakarta raya - November 29, 2010

  2. Ping-balik: Kehilangan Orang Baik (Sekelumit Kenangan atas Prof. Sjafri) « Awamologi - Februari 16, 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: