you're reading...
Awamologi

Asep Sambodja, bagiku Kau Syahid! (In Memoriam)

Bulan lalu (November), aku masih sempat baca-baca “status” dan “catatan” Asep Sambodja di Facebook (FB)-nya. Dalam kondisi sakit serius (kanker usus), ia rupanya tetap tekun berpuisi. Dari sini pula aku jadi tahu, puisi-puisi terbaru Asep dibukukan oleh Penerbit Ultimus: Berhala Obama dan Sepatu buat Bush (2010).

Rabu, 24 November, aku bermaksud datang ke Fakultas Ilmu Budaya Universits Indonesia (FIB UI) untuk menghadiri peluncuran buku kumpulan puisi Asep itu. Sayang, tak kutemukan tempat acaranya. Kala itu yang sempat kulihat hanya penyelenggaraan pameran budaya Betawi dan diskusi buku tentang sejarah Indonesia, bukan buku Asep. Aku pikir acara peluncuran buku Asep dibatalkan atau mungkin diadakan di gedung/ruang lain. Lantaran kondisi hujan dan waktu yang sempit, aku memutuskan untuk pulang saja.

Ternyata, sebagaimana kubaca di Antara, peluncuran buku itu digelar esok harinya, Kamis, 25 November, dan buku itu merupakan buku kumpulan puisi terakhir Asep. Sebab, pada hari yang sama di bulan berikutnya, Kamis, 9 Desember 2010, sekira pukul 09.55 WIB, Asep dipanggil Sang Pencipta. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Semoga kau mendapatkan tempat yang lapang di kubur dan yang terbaik di sisi-Nya kelak.

Sosok ini, Asep Sambodja, memang tak asing bagiku lantaran dia keluargaku di sebuah majelis taklim sastra-budaya. Tempat tinggal kami pun berdekatan di daerah Citayam/Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Bedanya, Asep begitu istiqamah bersastra-budaya, aku sekadar mencecapnya saja. Bahkan sesudah malang-melintang di dunia jurnalistik, Asep kembali ke almamaternya, FIB UI, sebagai pengajar sastra-budaya.

Lantaran perbedaan kadar itu, wajar saja bila aku tak begitu intens bertaut dalam pergulatan kesastra-budayaan dengan Asep. Namun, kami masih suka bertukar sapa dan kabar via milis. Sayang, intensitasku ber-online-ria tak selalu sering dan rutin. Aku pun jadi terlewat mengetahui kala Asep sakit parah dan mesti dioperasi. Bahkan, ketika diadakan penggalangan kepedulian untuk meringankan beban Asep pun aku tak tahu. Aku baru mengetahui kabar itu beberapa waktu kemudian. Itu pun aku belum betul-betul paham seberapa parah sakitnya. Apalagi, setelah itu, aku masih sempat bertemu dengannya sebentar di jalan dekat Stasiun Citayam. Ketika kutanya soal sakitnya, ia hanya sempat memberikan jawaban sekilas sembari tersenyum ceria.

Kini, senyum itu betul-betul telah meninggalkanku dan kita semua. Tapi, lewat kata-kata (puisi terutama) yang menjadi jalan perjuangannya, ia akan tetap ada. Aku ingat, ada tiga buku kumpulan puisinya terdahulu yang ia berikan kepadaku: Menjelma Rahwana (1999), Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006), dan Ballada Para Nabi (2007). Sejak buku Ballada … ini, kulihat Asep lebih eksploratif dalam tema puisi. Ia pun lebih terlibat dalam problem kemasyarakatan dan kemanusiaan. Dari permasalahan yang melilit bangsanya semisal ketidakadilan hukum bagi kaum bawah atau negara yang tidak serius memberangus korupsi hingga soal-soal di dunia internasional semisal di Irak, Gaza, Palestina, juga menyangkut figur-figur, dari Bush hingga Obama, sebagaimana tertera pada judul buku kumpulan puisi terakhirnya itu.

Agaknya, intensitas keterlibatan itu membawa pengaruh bagi ungkapan-ungkapan puisinya. Ia cenderung memakai bahasa yang terang minim metafora dan citraan meski bukan berarti tidak ada sama sekali. Namun, bagiku sendiri sebagai orang awam, hal itu malah menjadi mudah dimaknai dan memberi arti. Di tengah proses menjalani perawatan dan menanggung kesakitan, ia bahkan tetap rajin dan tekun menuliskan puisi-puisi kepeduliannya bagi sesama melebihi kepedulian kepada diri sendiri.

Itulah yang membuatku melihat Asep telah memilih jalan kesyahidannya. Seorang ulama (Ibnul Qayim al-Jauziyah), misalnya, pernah memberikan ungkapan bahwa setetes tinta dari penulis itu lebih mulia dibandingkan darah yang tercurah dari para syuhada.

Kalaupun tidak sampai dalam taraf itu (syahid), paling tidak Asep telah memberikan jenis cinta (pada problem kemanusiaan dan kemasyarakatan) yang dapat mengantarkannya ke surga. Jangankan cinta jenis demikian, cinta antarpria-wanita yang dapat berakhir merana bagi para pelakunya pun masih dapat menjadi tiket ke surga sebagaimana disitir Iqbal Barakat berikut ini: ”Barangsiapa jatuh cinta dan menjaga dirinya (dari hal-hal yang dilarang dalam hubungan laki-laki dan perempuan), kemudian mati, maka dia mati syahid!” Itu yang aku baca dari buku Kisah-Kisah Cinta-Awal Islam (terjemahan dari Penerbit Qisti Press, 2004) karya Barakat.

Jadi, bila Tuhan memerlukan saksi (tapi aku yakin tidak karena Dia Maha Tahu) bagi Asep untuk keperluan tiket ke surga itu, akulah salah satunya.

Asep, dari Citayam kini kau telah pindah ke rumah peristirahatan akhirmu di Wonosari, Gunung Kidul. KRL yang biasa kau tumpangi ke UI telah mengestafetkanmu hingga ke sana, setelah sempat singgah lama di Yogya dan lalu menuju Bandung (dalam masa perawatan) hingga tutup usiamu, lalu kembali melewati Yogya hingga ke Wonosari. Yakinlah, namamu akan tetap berseri di bumi pertiwi ini.

kematian adalah kawan yang paling menenangkan

di luar itu, wajah-wajah yang mirip drakula

ehud olmert

ehud barak

tzipi livni

bertaring dan beracun

……………

(dari puisi Asep, Misalkan Kita di Gaza, Citayam, 18 Januari 2009)

 

 

 

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

6 thoughts on “Asep Sambodja, bagiku Kau Syahid! (In Memoriam)

  1. INDAH SUKA INI…… ”Barangsiapa jatuh cinta dan menjaga dirinya (dari hal-hal yang dilarang dalam hubungan laki-laki dan perempuan), kemudian mati, maka dia mati syahid!”

    @Silakan diamalkan (jatuh cinta).

    Posted by zadinda | Desember 14, 2010, 10:19 pm
  2. Ternyata dunia sangat luas…

    Banyak cara untuk jihad…tak seperti apa yg aku pikirkan…

    @Semoga bisa mantap berjihad demi umat, menebarkan surga bagi sesama.

    Posted by Jabal Nur Hakim | Desember 15, 2010, 9:33 am
  3. jujur, sangat begitu menghayati tulisan diatas sampai menangis. terharu, benar2 sedih. Dari judulnya saya langsung merasa “ini sangat menarik”. Ternyata benar2 membuat saya menangis

    *duh maaf jadi lebay dikit

    @Lebay dikit gpp-lah, Ardhan, asalkan dirimu ikhlas. Makasih dah singgah dan bersedekah.

    Posted by ardhan | Desember 17, 2010, 1:58 am
    • sama-sama, saya mulai aktif kembali ngeblog karena banyak menemukan tulisna dan orang2 yang serius dalam ngeblog untuk berbagi informasi dna pengalaman yg bisa dijadikan pelajaran dan hikmah dlm hidup.🙂

      Posted by Martha Andival | Desember 21, 2010, 3:59 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: sayup | was indah sagst - Desember 21, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: