you're reading...
Awamologi

Serangan Ajal

Bohong bahwa orang sampai kehabisan ide penulisan. Yang benar adalah orang kehabisan cara untuk menuliskan ide itu. Demikian menurut rekan blogger Bogor, WKF. Namun, nyatanya, aku benar-benar belum mampu menulis postingan apa pun, entah idenya yang kurang cocok di hati atau memang tak mampu (kehabisan cara) untuk menuangkannya dalam tulisan.

 

Meski begitu, aku tak ingin terlalu banyak mengeluh. Kalau bisa ya tak mengeluh sama sekali. Konon, mengeluh itu membuat Tuhan mengurangi jatah berkah kita. Aku mesti melihat kemungkinan lebih “buruk” yang bisa jadi diderita orang lain. Dalam hal apa pun lantaran segala sisi hidup ini pada akhirnya saling memiliki kaitan.

 

Maka, ketika akhirnya cermin yang ada “di bawah” kita membukakan dirinya, aku betul-betul mesti menautkan diri pada dzat Yang Mahakuasa, berucap syukur bukan atas “kemalangan” orang lain yang jadi cermin itu, tetapi pada sekian banyak nikmat Tuhan yang masih melekati diriku dan keluarga. Ya, Sabtu dini hari kemarin, saudara kita sesama anak bangsa telah habis waktunya untuk berkiprah di dunia ini. Dia telah pergi meninggalkan kita secara “mendadak” dalam usia yang masih terbilang muda, berpindah ke alam lain, alam kubur. Dialah Adji Massaid, mantan artis yang lalu terjun ke dunia politik. Penyebabnya (diduga): serangan jantung. Sesuatu yang sangat boleh jadi juga tengah mengintai kita. (Semoga Adji mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya).

 

Itulah ajal (kematian). Sesuatu yang tak dapat dimajukan ataupun dimundurkan lantaran telah ditetapkan Tuhan waktunya. Kiranya demikian pula ajal atau masa berakhirnya segala sesuatu. Sejauh bernama makhluk, maka pastilah ia akan menemui ajalnya. Jika yang bernyawa akan menemui kematian, yang tak bernyawa akan berakhir masa keberadaan dan kegunaannya. Baik yang abstrak maupun yang konkret sama-sama punya ajal. Kalaupun ada penafsiran lain dari “batas waktu ajal”, itu hanyalah apakah ketetapan ajal itu bersifat “periodik” berupa rentangan garis waktu tertentu atau bersifat eksak pada titik waktu tertentu (bahkan sampai pada detik tertentu menurut ukuran waktu manusia). Misalnya seseorang ditakdirkan meninggal dunia pada usia kepala 5, apakah itu berarti pas 50 tahun atau 50-an tahun yang berarti bisa 51–59 tahun? Kalaupun ajal merujuk pada yang terakhir (sekian-an tahun), tetaplah tidak bisa ditambahi atau dikurangi dari rentangan itu.

 

Sebagaimana ajal, rezeki juga memiliki pengertian serupa. Ia telah ditetapkan Tuhan ukuran atau takarannya bagi tiap manusia. Maka, kemungkinannya pun serupa: apakah takaran itu bersifat pasti yang merujuk pada nilai kualitas dan kuantitas tertentu yang eksak atau pada nilai kualitatif dan kuantitatif “kisaran tertentu”?

 

Dari keserupaan itu, timbul pula penafsiran lain: yang bisa bertambah atau berkurang dari ketetapan ajal dan rezeki kita (semisal yang termaktub dalam hadis Nabi bahwa ajal dan rezeki bisa bertambah dengan sarana silaturahmi) adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya. Artinya rezeki dan usia kita bisa bertambah berkahnya. Bahkan keberkahan usia dan aliran rezeki bisa melampaui batas waktu hidup seseorang. Bukankah karya nyata seseorang berupa amal saleh masih bisa memiliki pengaruh kebaikan di dunia dan sebaliknya amal jariah seseorang juga masih bisa mengalirkan “rezeki  pahala” baginya meskipun ia telah meninggal dunia? Paling tidak, ada tiga “karya nyata” seseorang yang dapat memberikan efek kebaikan baginya setelah wafat: anak saleh, amal jariah, dan ilmu yang bermanfaat. Artinya, tidak akan bermakna panjang-pendeknya umur, berkecukupan ataupun berkekurangan harta, dan pintar atau bodohnya seseorang bila ia tidak mampu menorehkan jejak (minimal) pada tiga “area kebaikan” itu.

 

Jadi, sebenarnya, gegap-gempita demonstrasi di Mesir yang bermaksud menyegerakan datangnya ajal kekuasaan Hosni Mubarak, entah kapan akan berhasil. Jika memang Tuhan menetapkannya hingga masa pemilu tiba, sedahsyat apa pun kekuatan demonstran itu takkan sanggup menumbangkan Mubarak. Paling-paling itu hanya akan sedikit membukakan “mata Mubarak dan kroninya”,  entah menjadi terang atau malah tambah rabun. Lha wong sudah 30-an tahun berkuasa kok nggak puas-puas. Kalau “pengadilan rakyat” bisa mereka (Mubarak dan kroninya) cueki, kan “pengadilan akhirat” tidak?

 

Yang pasti, kita memang pantas sedih atas datangnya ajal Adji lewat serangan jantung atau makin kecewa atas tak kunjung berhasilnya “serangan ajal” terhadap kekuasaan Mubarak atau yang lebih kontekstual dengan kita ya amat sangat prihatin atas makin bandelnya “segala jenis mafia” di negeri kita. Namun, jelas ada yang lebih hakiki dari itu, yaitu memastikan bahwa dalam setiap denyut nadi kita mesti ada unsur ketuhanan di dalamnya. Kecuali kalau kita memang atheis atau telah benar-benar mampu membunuh Tuhan.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

10 thoughts on “Serangan Ajal

  1. Tetapi begitu menulis, seperti ini, saya tidak percaya kalau kata-kata “Namun, nyatanya, aku benar-benar belum mampu menulis postingan apa pun, entah idenya yang kurang cocok di hati atau memang tak mampu (kehabisan cara) untuk menuangkannya dalam tulisan.” benar adanya.😉

    Posted by Wong Kam Fung | Februari 7, 2011, 5:23 am
  2. woow… “belum mampu posting” aja hasilnya seperti ini… gimana kalo pas benar-benar mampu😀

    Posted by eneng ocha | Februari 8, 2011, 1:24 pm
  3. Kang Awam,
    saya Ocha
    sekali lagi… OCha… Bukan Echaaaa…😀

    Posted by eneng ocha | Februari 10, 2011, 1:16 pm
  4. @Mas WKF,
    memang yang sebenarnya aku maksudkan sebagai kebuntuan menulis ya sejak postingan terdahulu hingga postingan ini muncul. Bahkan, ketika mulai mengetikkan postingan ini pun belum bisa dikatan sudah jelas arahnya sampai betul-betul diposting. Jadi, aku gak bohong soal ini ya.
    @Halah, Ocha (gak salah eja/sebut lagi nih),
    gak baik lho memuji-muji gitu, lebih baik kasih kritik aja biar aku bisa terpacu tuk belajar.
    Eh, sori berats, soal salah ejanya ya. Tapi, sumpah, aku dah paham kok siapa dirimu dan blognya, gak keliru lagi. Itu betul-betul salah eja. Yang betul-betul ada dalam benakku ya dirmu itu, yang kusaksikan pas naik pelaminan itu.
    Btw, gimana kalau kau kusapa dengan Eneng Anggra, he he he.
    @Miftah,
    setuju boleh, tapi mending kasih kritik aja. Yakinlah aku akan tambah sayang padamu… (serius, gak pake he he he).

    Posted by Awam | Februari 11, 2011, 1:10 am
  5. dan ajalpun menjelang …..

    Posted by komuter | Februari 21, 2011, 2:40 pm
  6. Sebelum ajal datang,,, mari kita siapkan segalanya..

    Posted by Watch Raising Hope | Maret 11, 2011, 1:15 pm
  7. aku percaya sih, ide itu selalu ada namun tak selalu bisa dituliskan. perlu banyak energi dan waktu untuk menuliskan segala yg bersliweran pada pikiran dan perasaan kita.
    btw, makasih ya atas informasi koran tempo kemarin

    Posted by MT | Maret 29, 2011, 1:09 am
  8. jangan sampai hal itu terjadi pada kita,…

    Posted by Nuraeni | Agustus 23, 2011, 9:58 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: