you're reading...
NII KW9

NII (KW9-Al-Zaytun) Kuda Troya RI?

Maraknya pemberitaan soal korban-korban perekrutan untuk menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII) belakangan ini, selain mengharuskan masyarakat untuk waspada, juga meniscayakan mereka untuk tahu betul apa saja hal-hal yang benar dan yang keliru mengenai NII itu.

Dalam konteks sekarang ini, selepas NII SM Kartosoewirjo (NII SMK) yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 berhasil digagalkan, mutlak dibedakan antara NII ideologis sebagaimana dicita-citakan NII SMK dan yang sejenisnya dengan NII sebagai kedok belaka untuk meraih berbagai kepentingan lain yang non-agama (Islam), bahkan bertentangan dengan Islam itu sendiri. Tentu saja, sisa-sisa NII SMK dan NII-ideologis lainnya masih tetap ada, tetapi yang terutama kini bermasalah dan menelan banyak korban adalah para penipu berkedok NII. Salah satu yang paling massif baik dalam struktur organisasi maupun dalam skala operasionalnya yang menelan ribuan korban adalah NII Komandemen Wilayah IX (KW9) atau yang juga sering disebut sebagai NII Al-Zaytun karena memang berpusat di Ma’had Al-Zaytun (MAZ) Indramayu, Jawa Barat.

Mengapa NII KW9 disebut penipu? Itu lantaran doktrin ajaran NII dengan segala macam improvisasinya hanyalah dijadikan kedok akal-akalan belaka untuk mendapatkan dana, baik untuk menghidupi operasional MAZ (di luar dana dari santri, donatur dll) maupun menghidupi para elite pengurus yayasan MAZ/NII KW9.

Kaitan MAZ dan NII KW9

Tentu masyarakat akan sulit memercayai bahwa MAZ yang megah dan dikoar-koarkan prestasinya itu memiliki kaitan dengan NII KW9 dan hidup dari dana hasil penipuan masyarakat. Hal itu terutama karena memang NII KW9 berupaya menutupi hal tersebut rapat-rapat dan membentuk pola organisasi dengan sistem sel yang terpisah dan tertutup sehingga hanya orang dalam dan para korban merekalah yang tahu. Saya sendiri termasuk korban walaupun bukan korban langsung, melainkan dua adik kandung sayalah yang terenggut, bahkan telah berkeluarga dengan sesama anggota NII KW9 dan kini masih aktif walaupun tingkat keaktifannya berbeda-beda.

MAZ adalah institusi dengan struktur fungsional yang pekerjanya adalah para profesional yang dipekerjakan dan digaji secara profesional pula sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya. Begitu pula para santrinya dididik dengan kurikulum modern Islami (meski bukan tanpa cacat tentu saja) yang dijadikan sebagai brand image yayasan pengelolanya. Mereka memang bukan target penipuan NII KW9, sebaliknya justru merupakan kartu utama pengelabu masyarakat bahwa mereka merupakan lembaga yang legal yang pantas didukung dan dibanggakan.

Sebaliknya pengurus yayasan MAZ adalah anggota NII KW9 yang berstruktur teritorial dengan para aparatur teritorial yang bertugas menggalang dana dengan alat pemacu jihad-NII (ala KW9) dan iming-iming “surga” kejayaan Islam sebagaimana terwujudkan karya monumentalnya berupa MAZ. Namun, sebagaimana penipu pada umumnya, lebih banyak janji yang tidak ditepati daripada yang ditepati. Hanya segelintir petinggi wilayah teritorial NII KW9 yang akhirnya bisa mencicipi “surga” MAZ. Selebihnya, boro-boro bisa menginjakkan kaki di MAZ, yang ada mereka terus dijadikan sapi perah penopang MAZ. Hal ini telah diakui oleh salah satu adik saya yang jadi korban MAZ/NII KW9 bahwa mereka (beserta suami dan anak-anak) tak kunjung mendapatkan “surga” itu. Berbeda dengan adik saya yang satu lagi, meski tetap berstatus sebagai korban NII, mereka (beserta suami dan anak-anaknya) telah memiliki kedudukan yang dekat dengan pusat MAZ di Indramayu.

Secara lebih meyakinkan dan resmi, kaitan antara MAZ dan NII KW9 sebenarnya telah dapat diketahui dari hasil penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 5 Oktober 2002. MUI menemukan indikasi kuat adanya relasi antara MAZ dengan NII KW9, baik relasi atau hubungan secara historis, finansial maupun kepemimpinan. Secara historis, kelahiran MAZ memiliki hubungan historis dengan organisasi NII KW9. Secara finansial, ada aliran dana dari anggota dan aparat teritorial NII KW9 yang menjadi sumber dana signifikan bagi kelahiran dan perkembangan MAZ. Dari segi kepemimpinan, kepemimpinan di MAZ terkait dengan kepemimpinan di organisasi NII KW9, terutama pada figur AS Panji Gumilang dan sebagian pengurus yayasan. Selain itu, ditemukan pula indikasi keterkaitan sebagian koordinator wilayah yang bertugas sebagai tempat rekrutmen santri MAZ dengan organisasi NII KW IX.

Selain data resmi dari MUI itu, hingga kini pun terus bermunculan pengakuan dari para mantan anggota NII KW9 dan para korban mereka tentang keterkaitan antara MAZ dengan NII KW9, termasuk tentang aktivitas penipuan berkedok NII-nya, antara lain dari Bahtiar Rifai, mantan Wakil Camat NII wilayah Karanganyar-Kebumen, Sukanto, mantan Camat NII wilayah Tebet, Jakara Selatan, serta Ken Setiawan, sejawat Sukanto. Kebetulan, mereka bertiga kini aktif membentuk lembaga penanganan korban NII (KW9).

Pemerintah Tak Serius Tangani NII?

Inilah salah satu masalah besarnya: meski ribuan orang telah menjadi korban NII (KW9), hingga kini Pemerintah Republik Indonesia (RI) belum betul-betul serius menanganinya. Dari kasus yang marak baru-baru ini saja, baru satu pelaku perekrut yang sebenarnya juga korban NII, yaitu seorang mahasiswi, ditangkap saat sedang berupaya merekrut sesama mahasiswa di kampusnya. Bayangkan jika hanya para pelaku semacam itu saja yang ditangkap dan dipenjara, sementara para petinggi MAZ/NII KW9 dibiarkan tak tersentuh, terutama pemimpin utamanya (presiden, imam, atau khalifah) AS Panji Gumilang alias Abu Toto. Tentu akan sia-sia saja hasilnya.

Aparat kepolisian boleh dikatakan hanya berhenti pada penanganan kasus para korban saja tanpa berupaya lebih jauh mengusut dan memburu para elite pemimpinnya, tidak sebagaimana mereka menangani kasus terorisme. Polri, sebagaimana dikatakan kepala humasnya saat mengomentarai kasus “penculikan” Laila Febriani (Lian), calon pegawai negeri sipil Kementerian Perhubungan, yang diduga dilakukan NII (KW9) memang menyatakan kasus demikian itu bukan termasuk terorisme dan bukan pula kasus aliran sesat (walaupun dari hasil penelitian MUI di atas juga terdapat banyak indikasi kesesatan NII KW9). Pernyataan itu seolah-olah menjadi alasan bahwa mereka tidak akan memperlakukannya seserius ketika menangani masalah terorisme dan aliran sesat semisal Ahmadiyah.

Malangnya, masyarakat cenderung terkecoh melihat NII KW9 hanya dari sisi kesesatan atau penyimpangannya yang cenderung mudah dipatahkan dan relatif kurang memiliki unsur pidana (serta secara operasional kurang penetratif sehingga lebih rendah tingkat bahayanya) daripada melihatnya sebagai organisasi penipu sadis yang jelas dengan mudah bergerak massif yang menelan banyak korban.

Lebih mengenaskan lagi jika sinyalemen NII KW9 merupakan bentukan ataupun “binaan” (intelijen) Pemerintah RI yang dijadikan boneka, kartu truf, atau bahkan kuda Troya, untuk kepentingan tertentu saat diperlukan, benar adanya. Artinya mereka menjadi kartu politis pemerintah dan mendapatkan perlindungan politis pula dari pemerintah.  Bila benar demikian, tentu kita tidak dapat berharap NII (KW9) akan dilenyapkan dari bumi Indonesia dan korban-korban akan terus berjatuhan.

Soal kuda Troya, itu merupakan kata-kata yang diungkapkan Ken Setiawan, rekan Sukanto sesama mantan NII KW9. “Isu NII tersebut hanyalah kuda Troya untuk menghancurkan citra Penegakan Syariat Islam.” Padahal, sebagaimana yang diungkapkan Bahtiar Rifai, bagi orang-orang yang benar-benar meneliti gerakan ini, mereka akan paham bahwa NII KW9 bukanlah benar-benar memperjuangkan negara Islam sebagaimana dicita-citakan SM Kartosoewirjo dan sebagaimana yang digembar-gemborkan kalangan internal NII KW9 karena mereka yang gembar-gembor (aparat NII KW9) sendiri pada hakikatnya adalah korban juga yang sama sekali tidak mengetahui grand design dari gerakan NII KW9 ini. Sementara berdirinya NII KW9 ini justru merupakan upaya intelijen rezim Orde Baru untuk mempertahankan sekularisme Pancasila. Caranya, target untuk masyarakat umum (eksternal) yang tidak terekrut menjadi jamaah NII KW9 adalah terdistorsinya pemikiran masyarakat bahwa NII itu negatif, NII itu rampok, ahli takfir, dsb. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah pengaburan pemahaman.

Sementara target untuk mereka yang terekrut (internal) adalah meruntuhkan semangat (ghirah) pemuda/pemudi Muslim untuk menegakkan syariat Islam, yakni dengan mendoktrin bahwa NII (KW9) itu ingin menegakkan negara Islam, bahwa jika di luar NII itu kafir, maka NII KW9 ini adalah wadah bagi pemuda/pemudi yang memiliki ghirah untuk memperjuangkan Islam. Nah, setelah mereka yakin akan kebenaran doktrin-doktrin NII KW9 itu, di lingkup internal NII KW9 dibuatlah program-program yang memberatkan dengan penafsiran-penafsiran baru yang logis, tetapi sebenarnya sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Tujuannya untuk melemahkan kembali semangat menegakkan syariat yang sebelumnya digembar-gemborkan. Ini ibarat kita diajari terbang sangat tinggi, tetapi setelah mampu terbang tinggi sayap kita sengaja dipatahkan.
Efeknya bagi NII (yang asli semisal yang dicita-citakan SMK) adalah dalam hal pencitraan, yaitu jika orang bicara NII, yang timbul dalam perspektif masyarakat awam adalah NII KW9 (Al-Zaytun) AS Panji Gumilang yang pakai infak wajib, yang nggak wajib salat, dll. Padahal NII yang asli tidak begitu.

Nah, jika benar demikian kaitan politis-historis NII KW9 dengan unsur Pemerintah RI itu, maka hanya dengan kemauan baik pemerintahlah masalah NII ini dapat diselesaikan. Sebaliknya, jika pemerintah tidak terpanggil untuk menyelesaikannya, korban-korban tak berdosa pun akan terus berjatuhan.

Padahal, jika diperbandingkan, korban-korban aliran sesat non-NII dan bahkan korban teror bom (yang sifat ideologisnya lebih dominan) jauh lebih sedikit dan lebih “sederhana” efeknya bagi keluarga korban daripada korban NII KW9. Korban bom teroris misalnya lebih mudah diarahkan untuk disisakan sebagai sebuah kerugian secara fisik-material saja dan nyaris sempurna diterima sebagai sebuah takdir bila sampai meninggal dunia, tetapi korban NII KW9 jelas menyisakan banyak problem baik berupa kerugian materiil (ekonomi terutama) maupun moril (ikatan keluarga dan nilai-nilai batiniah lainnya yang terputus). Baik si korban masih bisa diketahui nasib dan keberadaannya atau malah masih bisa ditemui dan diajak berkomunikasi maupun yang benar-benar raib.

Semoga pemerintah masih punya hati nurani!

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

11 thoughts on “NII (KW9-Al-Zaytun) Kuda Troya RI?

  1. Bbetuuulll kang saya juga masi penasaran antara nii asli dan bayangan.nice artikel kang.

    Posted by echa | Mei 3, 2011, 10:47 pm
  2. Terimakasih tulisannya Mas Awam,

    Berharap pada aparat pemerintah / polisi memang lambat responnya😦

    Saya dan teman-2 Mantan NII Gadungan berharap besar pada Media Massa (Cetak / Elektronik / Internet).

    Kalau dulu seorang Ibu berpesan pada anaknya yang akan pergi merantau agar hati-hati terhadap :

    1. Narkoba

    2. Pergaulan Bebas

    sekarang tambah satu lagi :

    hati hati ada N I I di mana-mana
    🙂

    salam jabat erat sesama “bahtiar”,
    08132 8484 289
    bahtiar@gmail.com

    Posted by bahtiar | Mei 4, 2011, 9:49 am
  3. waduh seram sekali………

    Posted by komuter | Mei 5, 2011, 1:46 pm
  4. Wah, pakar awamologi sudah bangun nich… Ayo ikutan kontes sticker Islami. Ditunggu yah.

    Posted by Kontes Sticker Islami Akhmad Tefur | Mei 6, 2011, 6:39 am
  5. Ampe ada nama daerahnya, jadi ga enak saya –“

    Posted by Miftahgeek | Mei 7, 2011, 3:47 pm
  6. amiiin..
    hanya keajaiban dari allah yang bisa menyadarkan’a….

    Posted by Nuraeni | Agustus 23, 2011, 9:57 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Inilah Kisah Sepak Terjang Panji Gumilang | Masih Hangat - Mei 5, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: