you're reading...
Berita Awam

Mesti “Berubah”, tetapi Jangan “Merubah” (Oleh-oleh Gempita Bulan Bahasa)

Bagi mereka yang biasa menekuni bahasa Indonesia, perihal “perubahan” ini pastilah tidak lagi jadi masalah. Namun, bagi mereka yang awam, apalagi yang abai pada bahasa persatuan kita itu, tentulah lain masalahnya. Sangat boleh jadi mereka masih suka “merubah”, padahal mestinya cukup dengan “mengubah” kesadaran dan perilaku kebahasaan mereka sehingga bisa memenuhi standar “baik dan benar” yang memadai.

Berbahasa Indonesia yang memadai memang perlu dilandasi dengan kecintaan terhadap bahasa nasional kita itu. Tanpa itu, hasilnya tentu akan menjadi ala kadarnya saja. Bisa jadi Anda sudah puas dengan menjadi seorang penceramah yang laris atau penulis yang produktif, tetapi kalau dalam ceramah dan tulisan Anda masih kerap terdapat kekeliruan sejenis “merubah”––yang menjadi bermakna “menjadi rubah”, padahal jika yang dimaksudkan adalah upaya melakukan perubahan mestinya ya “mengubah”––atau ungkapan begini, “dalam suasana yang berbahagia ini” (padahal mestinya “dalam suasana yang membahagiakan ini”), percayalah, ceramah atau tulisan Anda akan menjadi kurang mengundang selera. Apalagi jika ternyata masih banyak kesalahan berbahasa lainnya, penghargaan khalayak terhadap Anda pun akan berkurang.

Kekeliruan dan kekurangpedulian berbahasa demikianlah yang coba diluruskan oleh para pemateri pada sesi Klinik Bahasa dalam rangkaian acara Gempita Bulan Bahasa (GBB) 2011, Jumat, 4 November, yang diadakan komunitas Rumah Kata Bogor dengan dukungan seniman jazz Idang Rasjidi dan Indosat sebagai sponsor. Ada tiga narasumber pada sesi ini, yaitu Khrisna Pabichara (praktisi perbukuan, cerpenis, penyunting), Ivan Lanin (Wikipediawan pendiri Wikimedia dan editor Google Bahasa Indonesia), serta Zen Hae (mantan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta). Acara yang digelar di area kediaman sang pemusik di Aryawidura Residence 4 Indraprasta 2 Bogor ini juga menyuguhkan sesi Klinik Musik dengan penampilan utama dari Jazz Syndicate arahan Idang Rasjidi. Berbagai suguhan kesenian lainnya juga turut memeriahkan perhelatan ini. Salah satu yang ditunggu-tunggu adalah Feni “Silet” Rose baca puisi.

Yang juga tak kalah dahsyat dan pantas dicatat lantaran merupakan “barang langka” adalah penampilan seorang “polisi puisi” membacakan sebuah puisi sebagai sajian selingan Klinik Bahasa. Puisi dan penampilan sang polisi boleh dibilang biasa-biasa saja, tetapi tampak jelas bahwa ia adalah seorang peminat bahasa dan sastra. Memang, ia (yang biasa disapa dengan panggilan Abah Zoer, sebagaimana disebutkan Mas WKF) termasuk yang bergiat di lingkup komunitas Rumah Kata Bogor. Jika saja banyak rekan sejawatnya para abdi negara itu yang seperti dirinya, tentu wajah Indonesia kita akan menjadi “lebih berbudaya”.

Semangat Sumpah Pemuda untuk “menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia” yang hendak dimasyarakatkan melalui GBB memang pantas didukung. Caranya dengan memupuk kepedulian dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Jangan malas untuk terus belajar bahasa dan mengamalkannya. Banyak pengetahuan kebahasaan yang dengan mudah kita peroleh. Jika tidak “mampu” beli buku bahasa atau mengakses internet untuk mencari pengetahuan berbahasa itu, kita masih bisa mengikuti “majelis taklim berbahasa gratis” sebagaimana yang diadakan komunitas Rumah Kata Bogor ini, baik lewat acara seperti GBB maupun kegiatan rutin mereka dalam olah seni-sastra-budaya yang di dalamnya tentu melibatkan bahasa Indonesia.

Mestinya sih begitu tamat SMA, kita telah memiliki bekal yang cukup untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, memang, kenyataannya guru bahasa Indonesia semata tidak cukup untuk membuat semua siswanya memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia yang memadai. Maka, sudah sepantasnya kita memperbanyak pihak yang mau menghidupkan kegiatan bermanfaat sebagaimana yang dilakukan komunitas Rumah Kata Bogor ini.

Kita bisa memulainya dari diri kita masing-masing.

***

Ket.:  Gambar-gambar dicolong dari koleksi pribadi Mas WKF (maaf ya Mas, gak minta izin dulu, he he).

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

12 thoughts on “Mesti “Berubah”, tetapi Jangan “Merubah” (Oleh-oleh Gempita Bulan Bahasa)

  1. Silakan dicolong, saya ikhlas kok.:mrgreen:
    Memang, bukan hanya orang awam, yang pejabat ataupun kaum akademisi saja masih banyak yang salah guna kata.
    Reportase yang menarik kang.

    Posted by wongkamfung | November 7, 2011, 7:29 am
  2. mantabssss

    beruntung saya bisa datang jg kmren

    Posted by asmari | November 7, 2011, 11:22 pm
  3. Terima kasih, kang Awam atas laporannya

    Posted by MT (@mataharitimoer) | November 7, 2011, 11:22 pm
  4. Terima kasih untuk “selayang pandang” yang menggugah ini. Salam takzim.

    Posted by khrisna pabichara | November 9, 2011, 4:52 am
  5. @WKF
    Alhamdulillah, Mas, atas keikhlasannya. Semoga dapat pahala.

    @Asmari
    Salut buat sampeyan yang telah menularkan “virus positif” blonek.

    @MT
    Sama-sama, Bos.

    @Khrisna Pabichara
    Wah, sebuah kehormatan nih, saya mendapatkan kunjungan Bung Khrisna. Semoga ilmu dan kreativitasnya ikut menulari saya. Amin.

    Posted by Awam | November 10, 2011, 10:14 pm
  6. Salam kenal. Memang ditengah arus moderenisasi bahasa Indonesia seakan menjadi terpinggirkan dengan banyaknya kata-kata yang dicampur adukkan dengan bahasa asing. Acara yang perlu digalakkan terus.

    Posted by Tanto | November 21, 2011, 10:27 am
  7. Terima kasih, mau berkunjung ke Rumah Kata Bogor.

    Salam.

    Posted by abahzoer | November 27, 2011, 12:21 am
  8. mohon maaf, saya lupa kalau Pak Bahtiar itu di Bogor, awal bulan lalu saya ke IPB tidak memberi kabar padahal cukup lama 3 hari.
    merubah kata dasarnya rubah, rubah itu nama hewan bukan kata kerja

    Posted by sunarno2010 | November 30, 2011, 7:32 am
  9. berkunjung kembali pak, belum ada yang baru nih

    Posted by sunarno2010 | Januari 3, 2012, 4:27 am
  10. teman-teman membentuk kelompok kepenulisan dengan nama Penamas (Penulis Muda Banyumas) proyek pertama buat antologi cerpen tentang banyumasan, kedua antologi cerpen banyumasan setting era orla

    Posted by sunarno2010 | Januari 3, 2012, 4:28 am
  11. @Mas Narno,
    Iya nih, Mas, penyakit kronis agaknya hingga susah diobati (gak kunjung ada postingan baru).
    Soal Penamas, syukurlah, semoga bisa meramaikan dan menyuburkan kepenulisan di Banyumas. Ditunggu buah karyanya Mas. Aku sendiri sih sulit nulis fiksi, jadi sebatas siap mengapresiasi saja.

    Posted by Awam | Januari 3, 2012, 11:19 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: