you're reading...
Sok Spiritual

Menjumpai Tuhan via Bacaan

Menjumpai Tuhan via Bacaan

… diangkatnya wajahnya/yang kuning langsat/ke langit/yang kebiru-biruan//… dia tahu Tuhan tinggal di situ/… karena begitulah kata ibu/… //… tapi dia tidak mengerti/mengapa kadang-kadang turun hujan ke bumi/… membuat dia tak boleh main di luar rumah//kalau di atas ada langit/apakah yang ada di bawah tanah ini/… mungkin di bawah tanah ini /sama seperti di atas sini …/ ada pohon ada …/ada tanah lapang di mana orang/main layang-layang/dan tentu mereka mengira/di atas sini tinggal Tuhan mereka!//dia mulai tersenyum/dia tahu sekarang mengapa kadang-kadang turun hujan//… senyumnya makin lebar sekarang—/dibayangkan-Nya anak-anak mandi hujan/di bawah sana!//

Tiba-tiba saya “menjumpai” Tuhan berkat sa(n)jak Saut Situmorang itu. Tentu saja tidak harus sama dengan Tuhan yang dibayangkan oleh “Saut kecil” sebagaimana dicitrakan dalam sajaknya itu. Namun, tak pelak, citra Tuhan dalam gelak sajak Saut berjudul “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” itu mampu menjembatani saya dengan Tuhan, dengan alam, antara Tuhan dan alam atau sebaliknya, serta antara saya dengan alam dan Tuhan atau sebaliknya. Saya bisa mengendap-endap, berjalan normal, bersijingkat atau malah berlari-larian hilir mudik bolak-balik dari alam ke Tuhan dan dari Tuhan ke alam.

Hemm, tiba-tiba pula, ingatan saya nyantol pada sebuah bacaan tentang Muhammad saw di buku Sejarah Hidup Muhammad-nya Husain Haikal. Tepatnya pada momen-momen saat beliau kecil hingga jelang menerima wahyu pertama. Di sana dikisahkan Muhammad kecil dirancang Tuhan untuk mendapatkan asupan dan tempaan hidup di daerah pedalaman Arab dengan alamnya yang masih segar dan adat budayanya yang masih murni sehingga dia yang sebenarnya anak kota tumbuh menjadi anak yang tegap secara fisik dan tangguh secara mental. Dia juga sempat melalui masa sebagai penggembala kambing di alam bebas yang mengarahkannya sejak belia menjadi seorang perenung, petafakur alam, pencari kebenaran dan kesejatian di balik kehidupan ini hingga pada puncaknya, saat sudah dewasa dan menikah dengan Khadijah, Muhammad melakukan tahannuf/tahannuth di Gunung/Gua Hira, secara rutin, sampai akhirnya menerima wahyu pertama.

Memang, sebagaimana dikatakan Haikal, sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat, dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rezeki dan pengetahuan. Pengasingan untuk beribadah semacam ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth.

Penerjemah buku ini, Ali Audah, memberikan catatan kaki bahwa tahannuf atau tahannafa mungkin asal katanya seakar dengan hanif yang berarti “cenderung kepada kebenaran”, “meninggalkan berhala dan beribadah kepada Allah”. Kata hanif itu misalnya bisa dilihat dalam Alquran, 2:135; 10:105 yang dapat diterjemahkan dengan “lurus”, “tulus dan ikhlas”.

Muhammad pun menemukan tempat untuk ber-tahannuf/tahannuth di puncak Gunung Hira––sejauh dua farsakh (hampir 6 km) sebelah utara Mekah. Sebagaimana dipaparkan Haikal, di sini rupanya Muhammad mendapat tempat yang paling baik guna mendalami pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam dirinya. Di tempat ini pula ia mendapatkan ketenangan dalam dinnya serta obat penawar hasrat hati yang ingin menyendiri, ingin mencari jalan memenuhi kerinduannya yang selalu makin besar, ingin mencapai makrifat serta mengetahui rahasia alam semesta.

Di puncak Gunung Hira terdapat sebuah gua yang baik sekali buat tempat menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Ia tekun dalam renungan dan ibadah, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Ia mencari kebenaran dan hanya kebenaran semata.

Dari paparan Haikal itu, saya mendapatkan pelajaran bahwa untuk sampai pada Tuhan, jalan terbaiknya adalah merenungi alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmosnya dalam diri kita. Sebagai apa pun kita, tidak ada halangan untuk menjadi petafakur alam. Malah sebagai penggembala kambing pun ketajaman mata batin kita jadi terasah. Muhammad bahkan “membanggakan” profesi penggembala ini. Katanya, mengutip Haikal, “Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.”

Ada baiknya kita ikuti penggambaran Haikal lebih lanjut mengenai penggembalaan dan permenungan Muhammad. “Penggembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertakhta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian itu karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri. Karena hatinya yang terang, jantungnya yang hidup, ia melihat dirinya tidak terpisah dari alam semesta itu. Bukankah juga ia menghirup udaranya dan kalau tidak demikian berarti kematian? Bukankah ia dihidupkan oleh sinar matahari, bermandikan cahaya bulan, dan kehadirannya berhubungan dengan bintang-bintang dan dengan seluruh alam? Bintang-bintang dan semesta alam yang tampak membentang di depannya berhubungan satu dengan yang lain dalam susunan yang sudah ditentukan, matahari tiada seharusnya dapat mengejar bulan atau malam akan mendahului siang. Apabila kelompok kambing yang ada di depan Muhammad itu memintakan kesadaran dan perhatiannya supaya jangan ada serigala yang akan menerkam domba itu, jangan sampai–selama tugasnya di pedalaman itu–ada domba yang sesat, maka kesadaran dan kekuatan apakah yang menjaga susunan alam yang begitu kuat ini?”

“Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh karena itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah dan memang begitu adanya: Al-Amin (yang dapat dipercaya).”

Kalau mau, kita juga bisa jadi “penggembala kambing” di mana saja. Yang minimal kita lakukan adalah kita berupaya menjadi pembaca alam yang baik. Kita simak segenap penampakan dan kejadian di alam ini dengan kejernihan hati dan kepekaan nurani, lalu kita “catat” poin-poin pentingnya. Dalam bahasa Jawa ada istilah “niteni” yang berarti mengamati dengan segenap kepekaan dan lalu mencatatnya dalam ingatan sehingga akhirnya kita jadi “titen”, tajam penglihatan dan kuat ingatan akal/batinnya. Itulah yang mesti kita lakukan (niteni) dan dapatkan (titen). Dari situ kita akan dapat memahami siapa diri kita dan pada akhirnya bisa “menyatu” dengan Sang Diri.***

Sumber gambar: highsierratopix.com

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

One thought on “Menjumpai Tuhan via Bacaan

  1. itu. Bukankah juga ia menghirup udaranya dan kalau tidak demikian berarti kematian? Bukankah ia dihidupkan oleh sinar matahari, bermandikan cahaya bulan, dan kehadirannya berhubungan dengan bintang-bintang dan dengan seluruh alam? Bintang-bintang dan semesta alam yang tampak membentang di depannya berhubungan satu dengan yang lain dalam susunan yang sudah ditentukan, matahari tiada seharusnya dapat mengejar bulan atau malam akan mendahului siang. Apabila GudangPoker.com Situs Judi Poker Online Terbaik Terpercaya – http://goo.gl/h7oUVP

    Posted by kornealsteven | Agustus 6, 2014, 7:20 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: