you're reading...
Awamologi

KUBURAN (Silakan Berpelesiran ke Sini)

//Bulan di atas kuburan//. Itu sepenggal kalimat dari puisi “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang, sastrawan tangguh Angkatan ’45 kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924, yang hingga kini masih berjaya. Isinya memang cuma sekalimat itu saja dan sebenarnya bukan bicara soal kuburan, melainkan mengenai Lebaran atau tepatnya malam Lebaran seperti yang menjadi judulnya. Namun, memang, tidak bisa tidak, kita akan membayangkan keberadaan kuburan sebagaimana yang ditautkan oleh puisi tersebut.

Entah apa yang dimaksudkan sang penyair, bagiku puisi itu justru mampu menuntun kesadaran diri (pada momen malam hari raya) untuk tidak tenggelam dalam euforia “kemenangan” selepas puasa Ramadan. Kumandang takbir dengan telak mesti dimaknai bahwa Allah-lah Yang Maha Besar dan keberhasilan kita dari ujian Ramadan hanyalah secuil berkah dari kemahabesaran-Nya. Maka, kebahagiaan yang kita rasakan mesti kita bagikan pula kepada sesama, terutama para mustahik, fakir miskin. Termasuk mereka yang mungkin dirundung kesedihan pada saat-saat demikian lantaran mendapatkan musibah. Mereka yang berada di alam kubur atau alam arwah pun tak bolehlah kita anggap sampah. Pada saatnya, kita juga akan menyusul mereka sehingga kita mesti siapkan bekal amal yang cukup dan berguna. Jangan justru nilai plus yang kita raih dari Ramadan kita hambur-hambarkan sejak malam Lebaran itu.

Memang, pertautan kita dengan kuburan (kematian) tidak berarti harus dibarengi dengan kemurungan. Kita malah mesti tambah bergairah untuk mendapatkan dan menebarkan berkah. Takaran yang diajarkan Nabi (Muhammad) SAW pun berkisar di tengah-tengah: kejarlah duniamu seolah-olah kau akan hidup selama-lamanya dan raihlah bekal akhiratmu seakan-akan kau bakal mati esok hari.

Lagipula, kematian memang tidak perlu disongsong dengan kecemasan. Kesiapan dan keikhlasan menghadapinya mestinya bisa menumbuhkan kelegaan dan kebahagiaan. Buku-buku yang membahas perihal kematian, misalnya dari Komaruddin Hidayat dan Jalaluddin Rahmat yang ternyata laris itu, pun menegaskan demikian. Kematian, jika dilalui dengan benar dan ikhlas, ternyata dapat menjadi sarana pembersih dosa. Sebersih Idul Fitri.

Jadi, tak ada salahnya atau malah semestinya, kita sering-sering “bertamasya” ke kuburan. Bertakziah atau berziarah tepatnya. Syukur-syukur kita bisa dengan mudah mendapati kuburan yang indah pemandangannya. Yang aku ketahui, Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, salah satunya. Yang masih terbilang baru dan paling representatif keindahannya dalam rupa modern ya San Diego Hills di Karawang, Jawa Barat. Media menyebutnya sebagai kuburan mewah dan betul demikian karena dibangun secara mewah dengan harga kavling dan tarif penguburan yang tak murah bagi warga kelas menengah sekalipun. Namun, kalau untuk sekadar menyegarkan mata atau merenungkan sebait kata, tentulah amat sangat bisa dijangkau siapa saja.

Anak-anak dari Komunitas (Milis Puisi) Bunga Matahari (BuMa) misalnya pernah ke sana (San Diego Hills) untuk berpuisi. Ini jelas kegiatan yang positif. Insya Allah, kapan-kapan, akan kuajak keluargaku jalan-jalan ke sana atau yang lebih dekat dulu ke TMP Kali Bata, secara khusus, tidak sekadar lewat sebagaimana kalau pas naik motor saat mau berangkat dan sepulang kerja.

Tapi, sangat boleh jadi, kalau mau “berburu” kuburan indah di seputar Kabupaten Bogor, banyak jumlahnya. Kebetulan aku belum sempat melakukannya. Mungkin teman-teman Blogor ada yang tahu, mohon kasih informasinya ya.

Yang jelas kuketahui dan bikin jadi ingin pulang kampung adalah kuburan unik di kampungku di wilayah Banyumas, Jawa Tengah sana. Tepatnya di Desa Tipar, Kecamatan Rawalo. Itu kuburan utama yang paling besar di desaku, yang lain ya kecil-kecil saja. Kuburan berbentuk bukit yang hampir separo sisinya dikitari persawahan, separonya lagi area tegalan yang bersambung dengan wilayah dusun hunian warga. Dari sisi persawahan di pinggir jalan utama, kuburan itu menjadi pemandangan menarik. Tidak terlalu rimbun oleh pepohonan, mirip seperti bukit golf. Sayang, tidak ada petugas yang merawat secara khusus. Agaknya kondisinya bakal makin tandus. Ada baiknya perangkat desa memikirkan hal ini. Sayang, aku hanya sempat setahun sekali mudik. Itu pun tidak selalu secara khusus nyekar (berziarah, berkirim doa) di kuburan kampungku itu. Meski eyang buyut kakung-putri dan eyang kakungku serta kerabatku yang lain dari garis keturunan ibu dikuburkan di sana, tidak ada acara kirim doa bersama yang dikoordinasi trah keluarga ibuku. Yang rutin tiap tahun melakukan hal itu adalah keluarga bapakku di tetangga desa, Pesawahan. Tapi kuburan di situ biasa saja, seperti tanah tegalan atau kebun-ladang pada umumnya, rata tidak berbukit.

Ah ya sebagaimana kematian, kuburan kita nanti pun belum dapat dipastikan. Begitu pula kuburku nanti, entah di mana. Mustahil rasanya aku akan dikuburkan di TMP Kalibata, lah wong Bung Karno saja malah dikubur di Blitar. Mantan Presiden Suharto pun tak ada di sana, tapi di Astana Giribangun. Mungkinkah di San Diego Hills?

Bisa jadi. Tapi itu kalau aku jadi pengusaha sukses dulu. Pak Sudwikatmono, 76 tahun, yang baru meninggal Sabtu lalu, 8 Januari 2011, pun dimakamkan di sana. Pak Dwi yang sepupu Pak Harto, penguasa Orba, memang bukan sekadar pengusaha. Ia termasuk konglomerat ternama negeri ini.

Terus terang, tulisan ini terilhami oleh berpulangnya Pak Dwi yang dimakamkan di San Diego Hills (tepatnya di Blok Mercy A-22), yang kebetulan dibarengi pula (pada hari yang sama) oleh meninggalnya pemusik kenamaan Elfa Secioria (lengkapnya Elfa Secioria Hasbullah, 52 tahun) dan istri mendiang sastrawan ternama kita Pramoedya Ananta Toer, Maemunah Thamrin, 81 tahun. Elfa dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Jakarta Timur, sedangkan istri Pram di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, di samping pusara sang suami yang terlebih dahulu berpulang pada 30 April 2006.

Lalu aku sendiri nanti bakal dikubur di mana? Inginnya sih dikuburkan di kampung halaman, tapi entahlah akhirnya. Yang pasti, di mana pun itu, yang jadi dambaan tentulah khusnul khatimah. Amin ya Robbal Alamin.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

9 thoughts on “KUBURAN (Silakan Berpelesiran ke Sini)

  1. luar biasa, kuburan bikin kangen.. yang ada bikin nangis…

    @Kangennya sih ma kampung, kuburannya jadi pemicu.

    Posted by anang nurcahyo | Januari 10, 2011, 12:21 pm
  2. jadi sedih…. dulu saya selalu merindukan kuburan dan sempat hilang, sekarang baru mulai merasakan getaran-getaran itu lagi

    @”Getaran tanda hidup.” (Nyontek kata-kata dari Sitor: “Kegelisahan tanda hidup”).
    Gak perlu sedih, Bang. Boleh sih, tapi moga sedih yang inspiratif, menuntun kita pada perenungan, bukan kemurungan. Salam dari Bogor buatmu di Aceh (betul kan).

    Posted by ardhan | Januari 11, 2011, 7:49 am
  3. Saya ketemu puisi Sitor Situmorang ini pas SMP dan sampai sekarang masih mencari2 apa ya artinya..

    bulan itu maksudnya sesuatu yang indah, benderang, atau tak tergapai? Suasana Malam itu syahdu, sunyi, atau mencekam? Lalu kuburan itu oke, sangat mungkin artinya kematian. Dan Lebaran? Mengapa lebaran di ibaratkan itu?

    *nyerah

    @Bung Unggul, aku juga gak paham2 amat soal makna sebenarnya dari puisi itu (sesuai dengan yang dimaksudkan pengarang), maka ya aku pilih penafsiran bebas aja karena kan (konon, menurut teori), puisi itu langsung “yatim piatu” begitu dilahirkan penyairnya dan pembacalah yang berhak menafsirkannya. (Mengenai ini aku kasih tautannya di atas).

    Posted by unggulcenter | Januari 11, 2011, 2:40 pm
  4. Puisi itu juga yang paling sering dijadiin contoh ama Guru Bahasa Indonesia pas SMP dulu [mungkin karena gampang menghafalnya :D], tapi penjelasan di dalamnya emang dalem banget😦

    @Wah, sejak SMP dah hapal ya. Kalau aku malah baru tahu (ngeh) setelah kuliah (payah & parah ya).

    Posted by Miftahgeek | Januari 11, 2011, 7:34 pm
  5. “Bulan di atas kuburan” mungkin maksudnya kemenangan atas nafsu-nafsu (Bulan bersinar : pamudaran, pencerahan. Kuburan: nafsu-nafsu keduniawian terkubur). Kemenangan di hari yang suci. he he he. cocok gak bang kira-kira2…

    Posted by Apria | Februari 23, 2011, 8:58 am
  6. Dalam banget maknanya..! keren..

    Posted by Massage Chongqing | Februari 26, 2011, 6:36 am
  7. Rumah masa depan kita

    Posted by Watch The Closer | Maret 11, 2011, 7:50 pm
  8. Nice blog sob…!

    Posted by Massage Suzhou | Maret 17, 2011, 7:52 am
  9. di makam di mana pun pasti
    akhirnya kembali ke rahmatullah kok…

    Posted by Nuraeni | Agustus 23, 2011, 10:11 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: