you're reading...
Awamologi

Anda Tuhan atau tuhan?

Tuhan (dengan T besar dan tanpa tanda kutip) di balik jeruji. Itu kenyataannya, bukan “Tuhan” atau tuhan. Sebab, mestinya, tuhan-lah yang kita kerangkeng atau lebih baik lagi kita lenyapkan. Bukankah kita ini sekadar hamba Tuhan yang kalaupun punya kedudukan tinggi, tak kurang dan tak lebih hanyalah sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini? Jadi, tak layaklah kita menuhan-nuhankan diri. Namun, kenyataannya?

Itulah kurang lebih tema yang diperbincangkan dalam acara Kenduri Cinta edisi Oktober 2011 yang dilaksanakan pada Jumat malam tanggal 14 di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Saya baru sampai di sana pada pukul setengah sebelas malam ketika para pembicara sesi pertama tinggal menyisakan waktu setengah jam-an. Ada yang bicara dari sisi ekonomi, dari ranah pers, ada pula yang bicara tentang korupsi di negeri ini. Semuanya bermuara pada satu benang merah bahwa banyak para pengelola negara, wakil rakyat, dan pejabat yang telah berubah menjadi tuhan-tuhan atau paling tidak mereka telah meniadakan Tuhan atau sekadar mengerangkengnya di balik jeruji sehingga perilakunya jauh dari terpuji. Mereka jago-jago korupsi dan menebar penyesatan lewat informasi alias melakukan pembohongan publik.

Sebenarnya bukan hanya para pejabat dan wakil rakyat itu yang bisa menuhankan diri dan melenyapkan Tuhan dari perilaku keseharian. Warga sipil, rakyat atau kita semua pun bisa demikian. Kecuali jika kita berpegang teguh pada agama. Hanya saja agama di sini adalah yang berasal dan bermuara ke Tuhan, bukan malah agama (atau tepatnya keberagamaan lantaran merupakan pelaksanaan dari agama) itu sendiri yang dijadikan tuhan.

Agama memang representasi dari Tuhan, tetapi pelaksanaan dari agama atau keberagamaan janganlah dianggap identik dengan Tuhan lantaran ini merupakan praktik yang berasal dari manusia. Ibarat sungai, keberagamaan memang harus bermuara ke Tuhan sebagai lautnya atau mesti menyatu kembali dengan Tuhan, tidak boleh berhenti alirannya tanpa sampai ke muara (laut). Sungai (keberagamaan) hanya akan menjadi sungai yang sebenarnya (keberagamaan yang diridai Tuhan) jika ia bermuara ke laut (Tuhan). Jika tidak, ia hanya akan menjadi entitas lain (bukan sungai, tetapi danau misalnya)yang berarti telah menjadi tuhan tersendiri.

Dalam Islam, sungai itu bisa berupa mazhab tertentu atau organisasi tertentu, misalnya dalam konteks Indonesia adalah NU, Muhammadiyah yang semua itu harus mampu mengantarkan umatnya ke Tuhan (Allah SWT). Jangan sampai masing-masing mengklaim diri yang paling benar dan dengan demikian berarti telah menuhankan diri. Demikian pula kiai, ustad, dan kita masing-masing harus mengalir dan menyatu kembali dengan Tuhan sehingga sebenarnya apa pun perbedaannya pada dasarnya satu jua. Perbedaan akan selalu menjadi benih konflik jika ia tetap berhenti pada perbedaan itu sendiri tanpa mau menyatu kepada Tuhan.

Akan tetapi, menyatu bukan berarti lalu kita berhak menyatakan diri menjadi Tuhan lantaran menjadi tuhan saja pun tak boleh. Lihat saja misalnya perumpamaannya pada diri kita. Sandal atau sepatu, celana dan baju yang melekat pada diri kita memang lalu menjadi bagian dari identitas diri kita, misalnya saja bernama si Awam, tetapi bukankah mereka masing-masing tidak bisa mengaku-ngaku diri sebagai si Awam? Begitu pula kaki, pantat, badan, tangan, dan kepala masing-masing tidak bisa mendaku sebagai si Awam dengan berteriak, “Dakulah Awam,” lantaran memang hakikatnya tetap merupakan bagian dari raga si Awam. Mereka bahkan tidak bisa mengatakan diri sebagai roh si Awam walaupun semestinya bergerak sejalan dengan hakikat gerak roh Awam. Roh ini memang langsung berasal dari Tuhan (wanafakhtu fiihi min ruuhii , QS. Al-Hijr: 29), tetapi dia sendiri pun tidak bisa lalu dinyatakan sebagai tuhan, apalagi sebagai Tuhan. Paling tidak hanya dapat dikatakan bahwa roh inilah yang mewakili dimensi ketuhanan.

Memang, semua gerak mereka harus menuhan atau menuju Tuhan dan melebur dalam identitas Tuhan (atau mungkin, secara kebahasaan, tepatnya identitas ke-Tuhan-an), tetapi jelas mereka tetap tidak dapat berubah menjadi Tuhan. Kalaupun misalnya dalam paham “wihdatul wujud” ada yang sampai berpengakuan “Annal-Haq” (Akulah Tuhan), sebagaimana yang (mungkin) terjadi pada Syech Siti Jenar, hal itu tetaplah mesti dipahami sebagai “keterbatasan pengakuan kebahasaan” atas “identitas ke-Tuhan-an” dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Yang pasti, apa pun ungkapan yang terlontar dari proses menuhan atau me(n)-Tuhan itu, yang terpenting bukanlah ungkapannya, tetapi proses dan hasil penyatuannya yang kedua-duanya itu, gampangnya, kita “serahkan” saja kepada Tuhan lantaran semua ini menyangkut dimensi rohani (roh). Sebab, Tuhan sendirilah yang bilang bahwa perihal roh itu adalah urusan-Nya. Maka, kita tidak boleh hanya sibuk bertikai mengenai bahasa ungkap kerohanian atau ke-Tuhan-an, tetapi mestilah segera menyatu dalam hakikat kerohanian/ke-Tuhan-an itu.

Dalam bahasa yang lebih mudah, proses menuju/menyatu dengan Tuhan ini adalah apabila kita beribadah, baik mahdah maupun muamalah, hendaknya itu diniatkan hanya demi Tuhan alias mesti ikhlas karena Allah karena hanya itulah yang akan mengantarkan kita kepada-Nya.  Secara tasawuf memang ada amalan-amalan tersendiri sesuai dengan jalan tasawufnya, tetapi secara umum, kita cukup memenuhi rukun Iman dan Islam saja plus hal-hal yang disunatkan.

Dalam melaksanakan semua itu, kita tidak dituntut untuk menjadi ahli atau cerdik-cendekia, tetapi cukup dengan makrifat atau mengenal dan meyakini apa yang kita lakukan. Hal itu, selain dapat dicapai dengan belajar semampunya, juga bisa diperkuat dengan cara menjadi orang yang titen (peka) yang rajin niteni, yaitu dengan saksama mengamati dan mencatat hal-hal yang bisa mendatangkan kebaikan, keberkahan, dan keridaan Tuhan. Misalnya, kala kita ikhlas dan rajin bersedekah, menolong orang lain, dan sabar menerima cobaan Tuhan, insya Allah, kala itu pula rezeki Tuhan akan mendatangi kita. Atau, bisa pula, ketika kita membiasakan diri berpuasa, baik puasa dalam arti yang sebenarnya maupun sekadar melaksanakan makna-makna puasa sesuai dengan penghayatan kita, ketika itu juga kebaikan Tuhan akan menyertai kita.

Setiap orang bisa jadi punya kecocokan yang berbeda dalam menekuni ibadah. Ada yang lebih mantap menekuni salat, ada pula yang lebih pas dengan puasa meski semua rukun Islam itu tetap ditunaikan. Emha Ainun Najib, misalnya, dalam Kenduri Cinta ini mengatakan bahwa dirinya lebih berkarakter puasa. Ia antara lain merasa cocok mewujudkan salah satu makna puasa berupa tidak melakukan pemenuhan semua haknya meskipun semua itu bisa ia lakukan. Misalnya setelah berbuka, ia bisa memilih untuk tidak memuaskan sebanyak-banyak hal yang bisa ia lakukan yang sebelumnya terlarang ketika tengah berpuasa.

Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk memuluskan langkah kita menuju ke penyatuan dengan Tuhan sebagaimana yang terungkap di Kenduri Cinta. Baik yang diungkapkan Emha maupun pembicara lain dari sisi agama, yaitu dari Ustaz Nursamad Kamba dan Gus Candra Malik (maaf jika ejaannya salah lantaran hanya berdasarkan pendengaran saja). Salah satu yang penting untuk dicatat adalah tausiah bahwa kita tidak boleh keliru memilih prioritas antara hal-hal ukhrawi dan duniawi. Jangan terjebak pada paradigma “hadis” yang keasliannya diragukan ini: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.” Pasalnya, Alquran dengan jelas menyatakan bahwa akhirat itu lebih baik.

Gus Candra misalnya mengingatkan bahwa jika kita disibukkan dengan urusan dunia, yakinlah bahwa urusan dunia itu tidak akan pernah selesai dan kewajiban akhirat pastilah terbengkalai. Sementara jika kita menyelesaikan dahulu kewajiban ukhrawi, urusan duniawi bisa turut terselesaikan. Emha bahkan dengan tegas mewajibkan dirinya menjadi manusia yang dicari oleh uang (dunia), bukan dia yang mesti mencari-cari uang, dengan jalan memprioritaskan akhirat. Itulah pola pikir dan perilaku yang mesti kita ambil meskipun tiap orang tentu beda-beda takarannya.

Dalam tataran praktis, kiranya ungkapan berikut ini (yang diambil dari tulisan Fadil Fuad Basymeleh, pemilik Zahir Accounting dan Ketua Yayasan Bina Pengusaha Muslim, di www.pengusahamuslim.com) bisa mewakili pemenuhan prioritas akhirat itu: bekerjalah dengan tujuan akhirat. Berbisnislah dengan orientasi akhirat, yaitu dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama saat kita berusaha. Bukan mengejar cita-cita duniawi yang pendek seperti ingin punya mobil, punya rumah, perusahaan besar, dan seterusnya. Ini cita-cita yang terlalu pendek.  Maka, jika selama ini kita diajari sejak kecil untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat.

Fadil pun memberi contoh bekerja dengan orientasi akhirat, yang menurutnya banyak sekali: bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni satu juta anak yatim, dan seterusnya.

Selanjutnya, ia menuturkan kisah menarik di zaman tabiut tabi’in. Seorang ulama besar bernama Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli hadis sekaligus seorang pedagang yang berhasil. Beliau rahimahullah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, “Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar-pasar.”

Abdullah bin al-Mubarak menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadis agar mereka tetap fokus mengajar ilmu hadis dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadis. (Kisah itu disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’alam an-Nubala’ pada biografi Abdullah bin al-Mubarak)

So, masih berminat jadi tuhan atau malah makin mantap untuk mengaku-ngaku sebagai tuhan?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

6 thoughts on “Anda Tuhan atau tuhan?

  1. Jadi ingat seseorang yang mengatakan “Tiada tuhan selain Tuhan”

    Posted by Akhmad Tefur | Oktober 28, 2011, 4:58 pm
  2. Sekadar menambahkan bahwa organisasi atau bisa juga individu bisa memerangkap kita dengan bertindak menjadi broker surga (menjadi tuhan tersendiri). Ada kutipan “menggugah” mengenai hal itu dari presiden ketiga AS yang kubaca di blognya Mas Ipang (halo, Mas, assalamualikum wr.wb) berikut ini yang mungkin bisa memberi inspirasi:

    “Kalau Masuk Surga Harus Lewat Organisasi, Saya Memilih Tidak Masuk Surga (Thomas Jefferson, 3rd US President)”

    Posted by Awam | Desember 30, 2011, 2:07 am
  3. mau di bolakbalik dari dulu ampe qyamat
    kalimat tetep aja,,,,dan biasa coy,
    lebih baik diam…dari berjamaah dalam kebingungan

    Posted by bona | Oktober 15, 2014, 8:37 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Menjumpai Tuhan via Bacaan « Awamologi - Juli 29, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: